Komunikasi Pelayanan: Seri 3 | Ketika Kata Menjadi Kesaksian
Pelayanan bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya. Komunikasi yang jelas, tenang, dan penuh penghayatan dapat membantu jemaat semakin fokus dalam beribadah.

Seri 3 | Ketika Kata Menjadi Kesaksian

Oleh by Dkn. Tutty Purwaningsih, 16/08/26

Mungkin kita tidak selalu menyadari bahwa kata-kata memiliki kekuatan.

Satu kalimat dapat membuat seseorang tersenyum. Kalimat yang sama-sama
sederhana juga dapat membuat seseorang terluka. Sebuah pesan singkat dapat
menyelesaikan persoalan, tetapi dapat pula menimbulkan salah paham.

Karena itu, komunikasi bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga
bagaimana dan untuk apa kita mengatakannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berbicara spontan. Ketika sedang senang,
kecewa, marah, atau terburu-buru, kata-kata dapat keluar sebelum kita sempat
memikirkannya. Setelah itu, barulah kita menyadari bahwa perkataan tersebut
mungkin terlalu keras atau tidak pada tempatnya.

Padahal, kata-kata tidak memiliki tombol undo.

Sekali terucap, ia dapat tinggal dalam ingatan seseorang jauh lebih lama daripada
yang kita bayangkan.

Di tengah kehidupan bergereja dan kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk
menggunakan kata-kata yang membangun. Bukan berarti kita harus selalu
mengatakan hal-hal yang menyenangkan atau menghindari perbedaan pendapat.
Kita tetap dapat menyampaikan kritik, ketidaksetujuan, bahkan teguran. Yang
penting adalah cara kita menyampaikannya.

Ada perbedaan antara mengatakan:

"Kamu memang selalu salah."

dengan:

"Menurut saya, bagian ini masih bisa kita perbaiki."

Pesannya mungkin sama-sama menunjukkan adanya persoalan, tetapi dampaknya
sangat berbeda.

Komunikasi yang baik tidak menyembunyikan kebenaran. Komunikasi yang baik
menyampaikan kebenaran dengan cara yang tetap menghargai orang lain.

Karena itu, sebelum berbicara, mungkin kita dapat membiasakan diri bertanya:

Apakah perkataan saya benar? Apakah perlu disampaikan? Apakah cara saya
menyampaikannya akan membangun?

Tiga pertanyaan sederhana ini dapat menjadi penyaring sebelum kata-kata keluar
dari mulut kita.

Sebab pada akhirnya, kesaksian kita bukan hanya terlihat dari apa yang kita lakukan,
tetapi juga terdengar dari apa yang kita katakan.

Mari Mencoba

Sebelum menyampaikan sesuatu yang sensitif, berhentilah sejenak dan tanyakan:
 Apakah ini perlu saya katakan?
 Apakah waktunya tepat?
 Apakah saya dapat menyampaikannya dengan cara yang lebih membangun?

Refleksi

Jika orang lain mengenal saya hanya melalui kata-kata saya, kesaksian seperti
apa yang akan mereka lihat?

Inspirasi Firman

"Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang
baik untuk membangun…"
(Efesus 4:29)

Catatan Komunikasi Pelayanan
Kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang orang lain katakan kepada kita.
Tetapi kita dapat memilih apa yang keluar dari mulut kita.

Kiranya kata-kata kita bukan hanya terdengar, tetapi juga membawa kebaikan,
penguatan, dan damai bagi mereka yang mendengarnya.

Baca juga:
Komunikasi Pelayanan — Seri 1: Ketika Kata Menjadi Kesaksian

"Mendengarkan bukan sekadar diam. Mendengarkan berarti memberikan
perhatian."

Maksud kita mungkin baik. Tetapi tanpa disadari, orang tersebut bisa merasa bahwa
ceritanya belum benar-benar didengarkan.

Catatan Komunikasi Pelayanan

Pelayanan yang baik bukan hanya dipersiapkan dengan hati, tetapi juga disampaikan melalui komunikasi yang membangun. Karena setiap kata yang kita ucapkan dapat menjadi berkat bagi jemaat yang mendengarnya.

Baca juga:
Komunikasi Pelayanan — Seri 2: Melayani Dimulai dari Hati yang Mau Mendengar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *