A+ A A-

  • Dilihat: 22

Allah Peduli dan Penuh Belas Kasihan

HARI MINGGU XX SESUDAH PENTAKOSTA
Yoel 2: 18 – 27

"Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya."ayat 27

Bukan hal yang mudah untuk bangkit dari kejatuhan atau keterpurukan. Tidak sedikit orang karena beratnya penderitaan dan ketidak-mampuan melihat jalan keluar dari penderitaan menjadi putus asa. Tidak demikian dengan Tuhan Allah. Seberat apapun penderitaan yang dialami umatNya, Allah berkuasa untuk dapat memulihkan dan menyelamatkan umatNya. Kabar sukacita inilah yang disampaikan Yoel kepada orang-orang Yehuda. Serangan belalang yang dasyat, dilanjut dengan musim kering yang panjang telah membuat Yehuda hidup dalam penderitaan yang sangat luar biasa; miskin dan terancam kelaparan. Keadaan tersebut bertambah berat karena adanya ancaman serangan dari pasukan asing (utara).

Yoel menegaskan bahwa jalan keluar dari penderitaan Yehuda bukan dari manusia tetapi dari Tuhan Allah. Allah yang hadir ditengah-tengah mereka tidak disadari oleh umatNya sebagai Allah yang Maha -kuasa. Padahal Ia senantiasa bekerja dalam sejarah, karena Ia peduli dan mengasihi umatNya (ay.18). Allah berjanji untuk memulihkan keadaan Yehuda. Pemulihan Allah akan membuat Yehuda terbebas dari ancaman kelaparan, keamanan bahkan dari cela bangsa-bangsa lain. Tidak itu saja pemulihan dari Allah menjamin masa depan umat. Apa yang hilang dan terampas karena serangan belalang dan musim kering yang panjang akan dikembalikan Allah. Kenyataan ini menyatakan satu hal yang nampak jelas yaitu hidup dan masa depan umat sesungguhnya ada di dalam Allah yang sangat peduli dan penuh belas kasihan.

Allah menghendaki umatNya hidup dalam sukacita. Pemulihan yang menghadirkan sukacita itu bergantung sepenuhnya pada ketulusan umat untuk bertobat. Allah mendengar setiap permohonan yang dipanjatkan dengan hati yang bertobat (ay.19). Artinya tidak ada pemulihan tanpa pertobatan. Melalui pertobatan, kita disadarkan kembali bahwa dalam kehidupan ini ada Allah yang hadir mengampuni dan menyertai kita. Allah yang berkuasa melakukan perkara yang besar, yang penuh kepedulian dan mengasihi kita.