A+ A A-

  • Dilihat: 29

Meski Minoritas Tetaplah Kritis

HARI MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
Daniel 1: 1 – 17

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.ayat 8

Aqessa Aninda seorang penulis Indonesia pernah berkata ”Orang memang suka menganggap apa yang mayoritas lebih benar daripada minoritas”. Sebuah realita bahwa ukuran kebenaran hanya ditentukan atau didasarkan pada banyaknya orang melakukan atau menyetujuinya. Tanpa disadari bahwa hal itu membuat yang minoritas enggan untuk kritis dan tidak mampu bertahan pada kebenaran yang sesungguhnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita berani untuk tetap kritis menyuarakan kebenaran Allah meski di dalam keminoritasan kita?

Daniel dan ketiga temannya, Hananya, Misael dan Azarya adalah para pemuda cerdas dan beriman dari Yehuda yang ikut ditawan ke Babel. Mereka menjadi kaum minoritas diantara bangsa Babel yang besar. Meskipun minoritas, mereka tetap bersikap kritis terhadap suatu kebijakan yang tidak sesuai dengan kebenaran Allah dan dapat menodai iman mereka. Saat semua kaum muda cerdas yang direkrut bekerja di istana Babel diberikan makanan dan minuman anggur dari santapan raja. Daniel bersama teman-temannya bersikap kritis dan tetap menjaga kekudusan hidup. Mereka tidak mau mencemarkan kekudusan dengan makanan dan minuman yang dianggap telah dipersembahkan kepada Dewa. Mereka bersedia makan sayur dan minum air saja. Untuk meyakinkan pemimpin pegawai, Daniel meminta untuk dilakukan percobaan selama sepuluh hari dengan orang-orang lain yang makan santapan raja. Allah menyertai dan memberkati Daniel dan ketiga temannya. Terbukti bahwa tubuh mereka lebih sehat dibanding kaum muda lainnya. Pemimpin istana mengabulkan permintaan mereka.

Sebagai kelompok kecil (minoritas), orang percaya akan menghadapi tantangan yang sama. Tidak aneh jika demi jabatan dan kedudukan, juga cinta, ada yang mencemarkan diri, bahkan menyangkal imannya. Oleh karena itu, mari kita kritis seperti Daniel dan ketiga temannya. Kuncinya, hidup takut akan Allah dan tetap menjaga kekudusan tubuh agar tidak tercemar di tengah berbagai godaan dan tantangan. Maka Allah akan menyertai dan memberikan kekuatan dan keberanian menghadapi kesulitan apa pun.