A+ A A-

  • Dilihat: 49

Positivisme

HARI MINGGU VII SESUDAH PENTAKOSTA
Ayub 2 : 9 – 13

Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.ayat 10b

Ayub dan istrinya mengalami musibah yang beruntun. Pertama, lembu sapi dan keledai betina mereka dirampas orang. Kedua, api membakar habis kambing domba dan penjaga-penjaganya. Ketiga, unta-untanya juga ikut dirampas orang. Keempat, tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan mereka, semuanya tewas tertimpa rumah mereka yang roboh akibat dilanda angin rebut. Belum cukup waktu merenungkan semuanya, Ayub pun tiba-tiba mengalami suatu penyakit yang membuat busuk telapak kaki sampai ke batu kepalanya. Maka berkatalah isterinya kepadanya: ”Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”. Tetapi Ayub berkata: “Engkau berbicara seperti orang gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”.

Setiap orang mempunyai kebiasaan yang berbeda dalam merespon suatu keadaan yang sesungguhnya netral, sebagaimana Ayub dan istrinya. Pribadi yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif mempunyai kebiasaan berpikir positif, bermental positif, berhati positif, beremosi positif, bertindak positif, berkata-kata positif, dan berkeyakinan positif. Demikian pula sebaliknya.

Ayub mampu dalam merespon secara tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik musibah demi musibah yang dialaminya. Memang sulit yang Ayub hadapi. Namun kedalaman hubungan yang terus menerus dibangun dengan Tuhan, membuat Ayub sampai pada tingkat pemahaman bahwa hal buruk sekalipun adalah bentuk lain dari wujud pemberian Tuhan. Musibah bisa menjadi peluang akan datangnya hal baru yang lebih baik, lebih maju, lebih berkualitas sebagai hasil dari evaluasi dalam kita belajar mengenal kuasa Tuhan, menggali potensi diri dan mengembangkan talenta sebagai seorang pejuang kehidupan. Immanuel!