A+ A A-

  • Dilihat: 16

Bukan Sekedar Kaidah Moral, Tetapi Harus Diamalkan

HARI MINGGU V SESUDAH PENTAKOSTA
Ulangan 5: 1 – 10

Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul dan berkata kepada mereka: "Dengarlah, hai orang Israel, ketetapan dan peraturan, yang pada hari ini kuperdengarkan kepadamu, supaya kamu mempelajarinya dan melakukannya dengan setia".ayat 1

Mulai awal bulan Juni 2019 warga GPIB diarahkan untuk lebih menghayati kelima kalimat pernyataan dalam kelima Sila yang merupakan tonggak utama kelanjutan bangsa Indonesia. Dengan memahaminya kembali dari perspektif Iman Kristen diharapkan nilai-nilai dasar Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mampu menyelap (merasuk) ke dalam sanubari warga GPIB dan berbuah lewat karya hidup. Pancasila tidak boleh hanya tinggal pada tataran konsep yang bagus untuk diucapkan, didengarkan, dipelajari tetapi kedalaman nilai dan wujudnya sebagai komitmen anak bangsa harus diberlakukan dengan setia. Untuk memudahkan anak bangsa memahami dan memberlakukan Pancasila maka pemerintah Indonesia menyusun 36 butir penghayatan dan pengamalan Pancasila dengan TAP MPR No. II/MPR/1978. Jumlah tersebut kemudian diperbaharui menjadi 45 butir pengamalan Pancasila sebagai penjabaran dari kelima sila lewat TAP MPR No.XVIII/MPR/1998.

Seperti halnya Pancasila, Dasa Titah menurut Musa tidak boleh sekedar menjadi kaidah moral bagi umat Israel untuk didengar, dipelajari tetapi harus diberlakukan dengan setia. Pemberlakuan Dasa Titah oleh umat Allah menjadi bukti tentang kesetiaan umat memberlakukan perjanjian yang terbangun antara Allah dengan nenek moyang mereka. Setelah mengakhiri perjalanan panjang melewati padang gurun, bangsa Israel yang segera akan masuk ke tanah Kanaan, dipanggil Musa dan diingatkan tentang ikatan perjanjian yang harus dijalankan dengan setia, dan bahwa ikatan perjanjian itu dibangun oleh mereka yang segera akan masuk ke tanah perjanjian. “Bukan dengan nenek moyang kita, Tuhan mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup”. Bukan hanya pendahulu kita yang harus setia dengan Pancasila, tetapi kita, semua anak bangsa Indonesia harus mengamalkan Pancasila sebagai wujud pertanggungjawaban kepada Tuhan.