A+ A A-

  • Dilihat: 29

Uang: Alat Pengabdi Allah

HARI MINGGU III SESUDAH PASKAH
Matius 6: 19–24

"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."ayat 27

Harta benda merupakan realitas sentral dalam relasinya dengan kesejahteraan. Prestise, reputasi, dan popularitas juga ada kaitannya dengan harta benda. Realitas publik pun menawarkan beragam kesempatan untuk mengidolakan harta benda lewat "alat" bernama "uang" yang kemudian mewujudkan dalam rupa-rupa barang material. Kultur mengidolakan harta benda biasanya dengan menggalang aset keuangan disertai slogan "Demi Kesejahteraan". Makna dibalik slogan itu sejatinya merupakan frase 'harga diri' disertai rasa aman dengan zona yang menjamin kenyamanan dan keamanan pnuh jauh dari risiko yang mengancam.

"Lucerna corporis tui est oculus tuus" — 'Mata adalah lampu untuk badan' (ay.22-23 BIMK-LAI), merupakan metafor karakter seseorang dalam menyikapi “alat” bernama “uang”. Hans-Peter Zimmermann (penulis dari Swiss) mengataan, “Uang hanya merusak orang-orang yang tidak punya karakter.” Uang tidak pernah menjadi tujuan tersendiri. Kita sebagai pelakulah yang harus bisa menyikapi harta benda – harta duniawi sebagai barang fana yang mudah hancur. Pribadi yang berkarakter tidak menghabiskan perhatian dan menyandu pada barang material yang rapuh dan tidak bernilai kekal. Yesus secara gamblang menyatakan kita tidak dapat melayani/bekerja untuk dua majikan, Allah dan harta benda juga. Kita harus membuat pilihan kepada siapakah sejatinya kita meletakkan rasa aman. Kepada “Allah Sumber Kesejahteraan Sejati” atau “uang sebagai alat” yang seharusnya menjadi alat pengabdi Allah?

Henry J. M. Nouwen dalam bukunya "A Sprituality of Fundraising” menulis, "Kita harus membuat pilihan apakah menjadi milik dunia ini atau menjadi milik Allah. Kepercayaan dasar kita harus terletak pada Allah. Selama rasa aman kita terletak pada uang, kita tidak bisa menjadi anggota sejati Kerajaan Allah.” Mamon (Aran: Mamona) diartikan kekayaan yang di dapat secara tidak bermoral dan tidak jujur. "Mamon" berasal dari akar "mn", "percaya", akar yang sama dari kata "amin". Hanya kepada Allah kita boleh menyatakan "AMIN". "Siapa mengandalkan harta akan jatuh seperti daun tua, orang yang saleh akan berkembang seperti tunas muda."- Amsal 11 : 28 (BIMK-LAI)