A+ A A-

HIDUP DALAM KETAATAN DAN PENGHARAPAN

“HIDUP DALAM KETAATAN DAN PENGHARAPAN”

Lukas  2 : 21 – 27

Seorang petani yang berpengalaman selalu mengikuti pola kerja yang sistematis sehingga pada gilirannya akan meberikan hasil yang terbaik baginya. Ada sejumlah ketentuan yang harus dilakukannya agar tanaman yang diusahakannya dapat memberikan hasil yang terbaik menurut ukuran yang berlaku. Sang petani harus memulai mempersiapkan lahan, menebas semak belukar, membersihkan rumput, membakar, mencangkul termasuk mempersiapkan bibit tanaman yang terpilih. Tahapan dan jenis kerjanya harus disesuaikan dengan pola musim, kbutuhan pasar dan seterusnya. Sebelum menanam harus ada hal-hal yang akan dilaksanakan terlebih dahulu. Setelah penanaman, harus diikuti dengan perawatan, pemupukan, penyiangan sean sebagainya agar dapat memberikan hasil panen yang sesuai harapan. Ketika panen tibapun, harus ada tindakan pasca panen yang tepat, agar hasilnya lebih berkualitas dan bernilai. Pelanggaran atau pengabaian terhadap satu atau sebagian dari langkah-langkah usaha taninya, akan berkakibat fatal seperti produkvitasnya menurun, kualitas rendah bahkan sampai gagal panen. Gagal panen berarti malapetaka yang dirasakan sebagai hukuman bagi sang petani dan keluarganya.

Lukas pada bagian ini seakan-akan menggabung 2 peristiwa penting. Pertama, adalah ketaatan Yusuf dan Maria terhadap perintah raja dan hukum Agama. Yusuf dan Maria menjalankan tanggungjawab spiritual mereka sebagai orang tua dihadapan Tuhan (ay. 21-24). Tanggung jawab ini mengungkapkan makna iman serta kepatuhan mereka atas apa yang telah difirmankan dan ditetapkan Tuhan. Yesus dibawa ke Bait Allah untuk disunat atau dikuduskan, sekaligus diserahkan menjadi “Milik” Allah dalam kaitan demgan penebusan yang dilakukan Tuhan dalam rangka penyelamatan mereka ketika anak-anak sulung Mesir dibunuh pada malam Paskah (bnd. Kel 13 :15).

Sama seperti kelahiran Yesus yang dilalui secara sederhana di kandang dan dibungkus lampin, maka dalam kategori sebagai orang miskin mereka hanya mempersembahkan 2 ekor tekukur dan 2 ekor anak merpati (ay 24). Suatu kesederhanaan namun dilakukan dalam sesungguhan serta dalam ketaatan yang tinggi terhadap ketentuan hokum dan agama pada waktu itu.

Yesus diserahkan ke Bait Allah sebagai symbol penyerahan kepada Tuhan sebagai anak sulung. Sejak dini, ia diperkenalkan dengan Bait Allah. Kita pun perlalu membangun tanggung jawab spiritual anak-anak kita sedini mungkin. Sangatlah keliru bila dikatakan bahwa anak kecil belum tahu apa-apa. Orang tua bertanggungjawab membwa anak mereka ke gereja dan mendorongnya untuk mulai dan terus beribadah kepada Tuhan.

Pokok yang Kedua, (ay 25-27), berhubungan dengan kehidupan Simon, orang saleh yang selalu berada dalam kesetiaan dan pengharapan akan janji Tuhan bahwa ia akan meilhat Mesias sebelum ia mati. Simeon sama seperti Hana adalah orang-orang yang rendah hati yang menanti di Bait Allah, pemwahyuan keselamatan yang dating dari Allah. Jika kita adalah orang yang dipimpin oleh Roh, maka kita akan selalu hidup dalam pengharapan, doa, dan Firman-Nya.

Simeon adalah contoh seorang yang benar dan saleh, karena Roh Allah ada di dalam dirinya. Ia tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri, saat menghadapi masalah kehidupan, tetapi bersandar pada janji Tuhan. Hal yang bias dipelajari dari kehidupan, tetapi bersandar pada janji Tuhan. Hal yang bias dipelajari dari kehidupan, tetapi bersandar pada janji Tuhan. Hal yang bias dipelajari dari kehidupan Simeon yang disertai Roh Allah ialah : 1). Hidup dalam pengharapan (ayat 25). Walaupun untuk menantikan janji Tuhan sampai menjadi kenyataan membutuhkan waktu yang lama, hal itu tidak membuat semangat Simeon kendor. Ia tetap setia menantikan penghiburan yang telah dijanjikan, sesuai dengan pernyataan ROh Kudus (ay. 26). 2). Selalu mencari Wajah Tuhan (ay. 27). Walau mungkin harus menunggu, tanpa ada kejelasan, tetapi karena iman dan pengharapannya kepada Tuhan begitu teguh, maka ia setia mencari wajah Tuhan. Sebagai orang benar, menantikan dan terus mencari wajah Tuhan. Sebagai orang benar, menantikan dan terus mencari wajah Tuhan. Sebagai orang benar, menantikan dan terus mencari wajah Tuhan. Sebagai orang benar, menantikan dan terus mencari wajah Tuhan adalah hal yang utama.  3). Menyambut Firman Tuhan (ay.28). Dalam Yohanes 1:1 dikatakan bahwa “pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Yesus adalah Firman yang menjadi manusia.

Sebagai orang percaya, yang sudah dibenarkan karena iman, marilah kita juga melakukan ketiga hal seperti yang dilakukan Simeon. Kita harus hidup dalam pengharapan, selalu mencari wajah Tuhan, dan menyukai firman-Nya, sehinga mengalami janji agar senantiasa dipimpin Roh Kudus. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Gal. 5 : 25). Kesetian, kepatuhan dan ketaatan terhadap ketentuan Tuhan, adalah jaminan untuk menjadi “milik pusaka” Allah.

EKKLESIA DARING

Sesuai dengan surat Pemberitahuan MS GPIB no. 9708/VII-20/MS.XX tanggal 13 Juli 2020 dan keputusan Sidang Majelis Jemaat tanggal 31 Juli 2020 Ibadah Hari Minggu akan kembali dimulai secara daring/online pada 2 Agustus 2020 dan seterusnya, sampai ada pemberitahuan selanjutnya.