A+ A A-

  • Dilihat: 2724

Bekerja Dengan Kristus (seri 2)

Bersaksi dalam Pekerjaan (Seri Kedua)

Pandangan Alkitab tentang Kerja

Melihat Perjanjian Lama, dalam sudut pandang yang berbeda, banyak orang Kristen merasa curiga bahwa kerja adalah lebih merupakan kutuk dari Allah,

 bukan berkat;  bila melihat Kejadian 3:17-19. Sebenarnya kita diajarkan bahwa sejak kejatuhan manusia dalam dosa itu maka hidup bertahan akan menjadi sulit tanpa kelimpahan Taman Eden dan maut menjadi akhir dari kehidupan. Padahal sebelumnya penyakit, rasa sakit dan kematian tidak dikenal. Allah menetapkan kerja itu baik. Dalam Kejadian 2:15, Allah mengambil manusia dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Jelas sekali! Pertama sekali hal yang Allah berikan pada manusia adalah tugas dan kerja mengusahakan dan memelihara Taman Eden, baru Allah memberikan Hama kepadanya. Kerja berarti kemuliaan “Enam hari lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari ketujuh, haruslah engkau berhenti” (Kejadian 34:21). Dalam Amsal 3:6-8 Allah memerintahkan kita mengamati semut dan belajar; semut bekerja keras untuk mengumpulkan makanan agar dapat hidup terus. Banyak orang Kristen dikecam karena semangat keagamaan mereka pada hari Minggu dan tampaknya mengabaikan prinsip-prinsip Kristen mereka ditempat kerja mereka, yang memberi kesan bahwa mereka munafik. Setiap pekerjaan halal patut dihormati, sesuai dengan yang dapat kita temukan disini:

    √ Kerja buruh (1 Raja Raja 5:7-18)
    √ Pekerjaan manual (Keluaran 36:1-2)
    √ Usaha dagang / kepemimpinan (Daniel / Musa)
    √ Usaha yang membutuhkan pikiran / ilmiah (Daniel)

Kerja keras juga memberikan kepuasan. Dalam Amsal termuat peringatan tentang kerja keras (Amsal 18:9, 19:15) “Aku melihat bahwa tidak adayang lebih baik bagi manusia daripada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah abgiannya. (Pengkhotbah 3:22)

Di dalam Perjanjian Baru, kerja diasumsikan sebagai cara yang normal bagi kehidupan setiap orang. Dalam konteks anugerah, orang tidak dapat lolos dari tanggung jawabnya untuk bekerja. Mengintip 2 Tesalonika 3:10, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” Rasul Paulus menekankan pada kesengajaan orang orang Kristen yang terlalu malas, terlalu rewel memilih atau tidak bisa diandalkan. “Tetapi jika ada seseorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” lanjut Paulus dalam 1 Timotius 5:8. Ini adalah tanggung jawab besar. Seorang Kristen harus mencukupi kebutuhan fisik keluarganya. Bila tidak, kesaksiannya runtuh. Allah maha kuasa, mampu mencukupi kebutuhan kita, tetapi pada umumnya kecukupan datang dari bekerja. Dalam Kolose 3:22 Rasul Paulus memerintahkan para hamba agar taat kepada tuan-tuan mereka, dalam masa kini bisa dibaca sebagai jadilah pegawai yang taat dan penurut.  Sementara Yohanes Pembaptis memerintahkan, “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Lukas 3:14). Para pemimpin Kristenpun dituntut untuk menjadi pemimpin yang adil (Kolose 4:1) dan memperhatikan kepetingan peerjanya, tanggap terhadap kebutuhan dan mempertimbangkan hak-hak mereka. (Imamat 19:13)

Bekerja sebagai bentuk kehormatan yang dapat kita temui di1 Tesalonika 4:11-12. Sehingga alasan untuk bekerja adalah memuliakan Allah, mencukupi kebutuhan keluarga kita dan menampilkan reputasi  yang baik pada dunia. Allah menuntut kesempurnaan. Dia tidak menuntut kita menjadi Super Hard Worker  tetapi Dia meminta kita menjadi  Best Smart Worker.  Hasilnya?

    √ Memberikan kesaksian yang lebih baik
    √ Memperoleh jaminan lebih baik dalam pekerjaan
    √ Naik pangkat dan/atau naik gaji
    √ Mendapatkan kepuasan kerja yang lebih besar.  Oke banget khan?

Bersaksi dalam Pekerjaan

Bersaksi dalam pekerjaan adalah sulit. Tak ada metode buku resep, karena tidak ada lingkungan kerja yang standard. Setiap jenis usaha, kantor, toko-toko memberikan konsteks yang berbeda dengan orang-orang berbeda dalam karakteristik yang juga berbeda. Namun sejumlah prinsip dapat menolong dalam semua kasus itu. Tujuan kesaksian bukanlah untuk membagikan Injil. Bukanlah menghasilkan Kristen baru, bukan pula untuk memenuhi sejumlah kewajiban kepada Allah. Tujuannya adalah untuk menolong orang lain memahami secara jelas isi berita Injil sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang didasarkan pada kebenaran. Simaklah pertanyaan pernyataan berikut untuk menemukan bidang bidang kekuatan dan kebutuhan anda. Jawablah dengan jujur sesuai dengan kehidupan anda,

Hubungan bersama Yesus Kristus

1.         Saya membaca Alkitab dan berdoa secara pribadi paling kurang empat                   YA / TIDAK
            kali seminggu.

2.         Saya telah melakukan pemahaman Alkitan secara pribadi dan tertulis selama          YA / TIDAK
            enam bulan terakhir.

3.         Paling kurang ada satu orang teman yang dengannya saya mempunyai                    YA / TIDAK
            interaksi penting (curhat) tentang masalah pribadi dan rohani.

4.         Saya telah melakukan satu atau lebih perubahan yang berarti dalam tahun               YA / TIDAK
            yang lampau sebagai tanggapan langsung kepada perintah Yesus Kristus

5.         Saya jelas telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruslamat pribadi saya.               YA / TIDAK

6.         Sejauh pengetahuan saya, saya tidak menolak Allah dalam masalah besar               YA / TIDAK
            apapun.

Pekerjaan

1.         Saya mampu mencukupi kebutuhan saya sendiri dan keluarga saya.                      YA / TIDAK

2.         Saya tidak pernah dipecat.                                                                                   YA / TIDAK

3.         Pada dasarnya saya berhasil dalam kerja saya                                                     YA / TIDAK

4.         Saya memperoleh kenaikan jabatan secara adil dan teratur sesuai dengan              YA / TIDAK
            keberhasilan saya.                                         

5.         Pada umumnya saya pergi ke tempat kerja saya dengan gembira.                           YA / TIDAK

6.         Saya bebas dari konflik besar apapun dengan orang lain di tempat kerja saya          YA / TIDAK

Pelayanan

1.         Saya melakukan pelayanan khusus secara pribadi.                                                YA / TIDAK

2.         Saya dapat menunjukkan suatu karunia rohani atau kemampuan pribadi yang          YA / TIDAK
            Allah berikan pada saya.

3.         Saya memanfaatkan karunia atau kemampuan itu sekarang.                                 YA / TIDAK

4.         Saya telah membawa seseorang selain keluarga saya pada karya keselamat-           YA / TIDAK
            an Tuhan Yesus Kristus.

5.         Saya yakin bahwa saya memberikan sumbangan penting dalam kehidupan               YA / TIDAK
            seseorang di luar keluarga saya.

6.         Saya percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus memakai saya sekarang.                          YA / TIDAK

Nah mari kita lihat kembali jawaban anda yang jujur tadi. Bila anda takut menjawab salah satu saja dari pertanyaan pernyataan di atas, tandailah dan susun rencana untuk mengevaluasi lebih teliti. Bila jawaban YA anda di atas mencapai 50% dari keseluruhan, masih terlalu rendah,… bahkan hasil antara 60-70% pun masih menunjukkan adanya suatu kebutuhan yang berarti.

Sukma dan Gatot

“ssstttt,…….!!” Jangan protes dulu, karena ini bukan di tulis untuk membahas infotaintment yang kian menjamur, yang konon ‘merasa semakin dibutuhkan oleh pemirsanya’ padahal sebenarnya kebenaran pendapat itu belum teruji. Pasangan “selebriti” ini selalu akrab dalam kehidupan Kristen, apalagi dikaitkan dengan ayo kibarkan kreasi….  yang dalam tayangan stasiun televisi semakin marak dengan AFI, KDI, Indonesian Idol, Indonesian Star dlsb, Smile di mana pasangan ini selalu ada di acara seperti itu dengan Gatot yang tereliminasi dan Sukma yang menuju puncak!

Bagaimana Allah mengukur keberhasilan? Apa sih yang dia inginkan dari kita? IA berkata pada Yosua bahwa bila ia terus menerus merenungkan hukum Allah dan dengan cermat menaatinya, “sebab demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Yosua 1:8). Bagi kita keberhasilanpun tergantung pada ketaatan pada firman Allah. Ini adalah keberhasilan seperti yang dipandang dari prespektif Kristus, bukan perspektif dunia. Sebagai manusia,  kita cenderung mengukur keberhasilan dalam satu dari tiga cara. Pertama, sekadar merasa sudah berhasil, yang mana hal ini dengan tingkat subyektifitas yang tinggi, lebih banyak kelirunya. Kedua, kita menilai keberhasilan atau kegagalan kita lewat penilaian orang lain walau kemungkinan tingkat subyektifitasnya masih relatif tinggi. Ketiga adalah keberhasilan berdasarkan sumber yang tetap dan netral seperti mengukurnya dari sudut pandang orang lain (atasan) yang memberikan tugas atau amanat.

Sumber keberhasilan yang hakiki adalah melalui Allah dalam Yesus Kristus. Seorang pemimpin misalnya diminta berhenti oleh Direkturnya dengan berbagai alasan yang kedengarannya benar namun pada kenyataannya dalam pengukuran  yang menggunakan system yang baku, sang pemimpin tersebut mendapatkan reward  karena pencapaian prestasi yang signifikan; belum tentu dinilai sebagai kegagalan karena ukuran yang dipaaki dilihat dari sudut pandang Kristus.  Jawaban bagi apa yang tampak sebagai ketidak seimbangan atau ketidak adilan dalam hidup tidaklah sederhana. Jawaban itu berakar dalam “JC Master Plan” yaitu sesuatu yang tidak mudah dipahami oleh siapapun. Kita melihat pula perbedaan tajam antara pandangan dunia dan pandangan Allah tentang kehidupan:

Dunia

 

Allah

Memusatkan perhatian pada materi, harta uang dalam kebanggan, kenyamanan dan kenikmatan.

 

Memusatkan perhatian pada pengembangan watak dalam diri, hingga mencerminkan sikap dan sifat Allah dalam Yesus Kristus sendiri.

Menekankan posisi, pangkat atau prestise seseorang yang tampak dari luar.

 

Menekankan si pribadi – nilai yang tidak terbatas dari orang itu.

Keuntungan dipaksakan diperoleh secepatnya dan sebanyak-banyaknya dari hidup sekarang ini.

 

Keuntungan jangka panjang dipersiapkan dari orang tersebut – aoa yang menguntungkan baginya di dunia dan dalam kekekalan.

Menekankan pengutamaan diri – egoisme yang dipusatkan pada kebutuhan kebutuhan “aku”.

 

Menolong kita memperhatikan kebutuhan orang lain.

Memaksakan perlindungan diri dengan mengutamakan jaminan keuangan dan fisik.

 

Jaminan yang paling absolute adalah ketika kehadiran Allah yang tiada putus melalui pengetahuan kehidupan rohani yang kuat.

 

Jelas dong bedanya! Tujuan orang Kristen berbeda ketimbang rasa bahagia yang sementara atas suatu ‘keberhasilan’. Dalam Alkitab ada maksud ganda tersirat. Pertama, IA ingin mendamaikan setiap orang dengan diriNya melalui karya keselamatan Yesus Kristus. Kedua, IA ingin kita dikembangkan untuk semakin “mirip” dengan Tuhan Yesus Smile.

Sukma dan Gatot  dirancang Allah bagi maksud tertentu, dapat kita simak di Ulangan 8:1-3. Di dalam peristiwa itu Allah menjelaskan alasan kegagalan selama 40 tahun terakhir dan syarat bagi keberhasilan di masa depan. Jadi kita perlu menaati apa yang kita ketahui tentang firman Allah, entah kita sedang berhasil atau gagal. Ketaatan adalah jalan keluar dari kegagalan. Inilah jalan menuju kesuksesan. Jadi Allah memakai keadaan dalam kehidupan kita seperti kegagalan, pertama untuk mengembangkan kerendahan hati sebagai pusat perhatian dan watyak kita; selain maksud maksud tertentu yang eksklusif berlaku untuk pribadi-pribadi tertentu (Mikha 6:8). Siapa sich, Gatot & Sukma itu, kog nggak pernah juga di sebut sebut di Alkitab? Oke deh, kalau begitu mari berkenalan dengan keduanya. GATOT mewakili kegagalan (GAgal TOTal) Cry sementara SUKMA mencerminkan keberhasilan (SUKses MAju) Smile.

Bagaimana dong sikap saya secara rohani bila saya gagal atau bila saya berhasil? Salah satu sikap yang sama dalam kedua kasus, yang GGS (Gampang Gampang Susah) adalah Mengucap Syukur dan Memuliakan Allah.  Dalam pengalaman seseorang pemimpin, saat tahu bahwa harus menutup perjalanan karirnya yang penuh berkat, akibat ketidak adilan atasannya, Sammy masih sempat melemparkan gurauan kepada salah satu Kepala Bagian yang adalah bawahannya langsung sehingga menimbulkan komentar,
    “Pak Sammy, masih bisa tertawa juga ya,.. walaupun keadaan seperti ini…”
    “Yach,.. Pak Adi, pekerjaan ini saya terima dari tangan Tuhan dan kalau sekarang itu diambil lagi, nggak apa-
      apa,.. asal saya cepat dicarikan gantinya saja….”
seperti tercatat dalam 1 Tesalonika 5:18. Jadi intinya, baiklah kita mengucap syukur secara terbuka maupun secara pribadi karena entah itu kegagalan apalagi keberhasilan tetaplah membawa kebaikan bagi kita bagi kemuliaanNya. Juga setia pada dasar-dasar kehidupan Kristen anda dalam segala kondisi. Tetap tingkatkan waktu bersama Yesus Kristus serta jagalah disiplin rohani kita dengan sungguh-sungguh. Dalam kesamaan sikap, yang perlu ditonjolkan antara lain:

GATOT

 

SUKMA

Hindari / kurangi sikap getir karena akan menyakiti dirimu sendiri (Ibrani 12:15)

 

Gunakan keberhasilan sebagai tumpuan kesaksianmu. Bukalah dirimu bagi Allah dalam keberhasilanmu

Adakan evaluasi dan hindari sikap menerima saja tanpa kamu ketahui “alasan di balik alasan” akan hal yang menimpa anda dan lakukan perbaikan berdasarkan pengalaman berharga anda.

 

Akui sumber keberhasilanmu adalah Tuhan Yesus Kristus. Kita bertanggung jawab atas Sukma karena semuanya di atur oleh Tuhan Yesus Kristus. (I Korintus 9:7)

Relakan diri untuk menunggu; kesabaran menemukan rencana Allah adalah kunci. Memang butuh waktu bagi kita untuk memulihkan diri dari pukulan emosi. Namun bersikaplah agresif dan tekun dalam langkah langkah anda. Jangan menyerah; arahkan perhatian pada apa yang Allah sediakan.

 

Waspadalah terhadap kesombongan. Pengakuan yang sungguh-sungguh bahwa kita berhutang dan bergantung pada Allah adalah langkah pencegahan yang terbaik. Salah satu tanda kesombongan adalah kecenderungan untuk meremehkan orang lain atau mengganggap orang lain less important dari pada diri kita sendiri. (Filipi 2:3-4)

 

Melakukan hal-hal di atas baik dalam kondisi Sukma apalagi Gatot memang kedengarannya berat. Untuk kesuksesan, maka kunci utamanya dalah ketekunan sementara tantangan justru lebih banyak bila menghadapi kegagalan. Mestinya kita hindari sikap tidak berharga dan gagal atau mencari alasan merasionalisasikan dan memberikan penjelasan guna menolak  kegagalan yang telah menjadi fakta; entah itu kegagalan dalam ukuran dunia ataupun yang merupakan “JC Master Plan” sesuatu yang dirancang oleh kuasa kasih Yesus Kristus. -SGV