A+ A A-

  • Dilihat: 2889

"Dia Selalu Ada, Beryukurlah"

Mengapa orang saleh menderita? Mengapa orang baik tertimpa malapetaka? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap muncul dalam hati, manakala kita melihat kemalangan datang menimpa, terutama bila itu terjadi pada orang-orang yang kita kenal sebagai orang baik. Kemudian refleksi tentang hal itu bermunculan, dan biasanya diikuti kata-kata penghiburan:

 "Ada rencana Tuhan yang indah di balik semua ini".  Benarkah?

Benarkah bahwa untuk menjalankan rencana-Nya yang indah Tuhan "tega" membuat orang baik menderita lebih dahulu? benarkah bahwa demi sebuah rencana indah yang tidak diketahui manusia (hanya Dia yang tahu) Tuhan menghadirkan penderitaan lebih dahulu? Benarkah Tuhan "memasukkan" penderitaan ke dalam rencana-Nya yang indah itu?  Pertanyaan-pertanyaan itu yang dikupas dalam buku :"Derita, Kutuk atau Rahmat?" yang ditulis oleh Harold S. Kushner, seorang theolog keturunan Israel.

Bagaimanakah kita menyikapi penderitaan yang kita hadapi? Bagaimanakah kita mempraktikkan hidup bersyukur di tengah penderitaan? Bagi Kushner, penderitaan tidak mengenal kategori, orang baik atau jahat, orang kaya atau orang miskin, tua atau muda. Kita sering merasa Tuhan tidak adil bila ada orang yang baik atau orang benar mengalami penderitaan. Baru terasa adil bila hanya orang jahat saja yang mengalami masalah atau penderitaan. Bukan begitu cara kerja Tuhan.

Tuhan itu adil pada jalan-Nya. Artinya ketika Ia menyelenggarakan dunia ini, Ia menjalankan dengan keadilan-Nya. Keterbatasan sebagai manusia yang menyebabkan kita tidak mampu memahami sepenuhnya keadilan-Nya. Sebagaimana matahari bersinar bagi semua orang (orang baik dan orang jahat) begitulah Tuhan menyelenggarakan dunia ini.

Bagaimana dengan rencana-Nya yang indah? Benar bahwa rencana-Nya indah. Benar juga bahwa Tuhan  menghendaki yang terindah dalam kehidupan manusia. Namun kita sering "salah" menempatkan posisi Tuhan dalam penderitaan kita. Kata-kata penghiburan  bahwa "ada rencana Tuhan di balik semua penderitaan" menempatkan Tuhan sebagai upaya "penutup", upaya terakhir, ketika semua pertanyaan "mengapa ini terjadi" tidak mampu kita jawab. Ketika itu dilakukan, maka kita tiba pada konsekuensi logis, bahwa untuk sebuah rencana indah, Tuhan menggunakan penderitaan. Padahal bukan itu yang terjadi.

Perhatikanlah yang dikatakan Yusuf dalam Kejadian 50 : 20 - "Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan". Yusuf menghayati bahwa penderitaannya disebabkan oleh saudara-saudaranya, tetapi Allah mengubah semua rencana jahat saudara-saudara Yusuf menjadi kebaikan. Perbedaan besar yang terjadi adalah bahwa Yusuf mampu memahami bahwa Allah tidak merencanakan penderitaan Yusuf sejak awal untuk menyelamatkan Israel, tetapi Allah mengubah yang buruk menjadi baik.

Bila kita memahami dengan cara yang sama seperti ini, maka penghiburan kita bukanlah kata-kata. Penghiburan kita adalah sekarang kita tahu bahwa dengan kuasa-Nya Allah akan mengubah semua penderitaan menjadi kebaikan. Keadilan-Nya menjadi nyata ketika hanya orang-orang baik yang mampu menemukan kebaikan Allah di balik semua deritanya. Pada gilirannya, tidaklah menajdi sulit untuk mempraktikkan hidup bersyukur dalam segala situasi kehidupan. Bukan bersyukur karena penderitaan, tetapi bersyukur karena dalam derita, kita tahu Allah ada di sana, berkarya, mengubah yang buruk menjadi kebaikan. Dengan demikian, tidak lagi perlu kita bertanya, mengapa ini harus terjadi, mengapa aku harus mengalami ini, dan sebagainya, sebab selain kita tidak tahu jawabannya, kita juga tidak perlu tahu sebabnya. Satu hal yang kita harus tahu adalah .... Dia selalu ada .... dalam derita atau suka. Dan itu sudah lebih dari cukup alasan bagi kita untuk bersyukur.