A+ A A-

  • Dilihat: 3144

Asal-usul (Mazmur 8 : 1 – 10 )

Manusia hina menjadi makhluk mulia. Begitulah Pemazmur memberi predikat kepada dirinya. Hal itu diyakininya karena ia merasa dirinya hina tetapi ia mendapat kehormatan dari Allah.  Misalnya ketika ia katakan bahwa Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk menguasai segala ciptaan Allah yang lainnya (ay. 7).

Bahkan lebih dahsyat lagi ketika ia merasakan bahwa Allah membuatnya hampir sama seperti Allah (ay. 6). Pertanyaan kita adalah: Apakah ada gunanya bagi hidup kita ketika kita mengetahui bahwa kita “hampir sama dengan Allah” ?

Atau apakah maknanya bagi hidup kita jika kita tahu bahwa kita “hampir sama dengan Allah” . Sebenarnya yang paling penting bagi kita bukanlah kita tahu bahwa kita sama atau tidak sama, atau hampir sama dengan Allah.  Yang paling utama adalah kita harus tahu hakekat kita sebagai manusia.

Sekarang sebenarnya siapakah manusia ?
Jika ditanyakan sebuah pertanyaan :
Siapakah anda ?
Bagaimana jawaban anda ?

Jadi, sebenarnya siapakah manusia ? Siapakah kita ?
Dari mana asal kita ?

Jika kita menemukan jawaban itu, maka kita akan dapat menemukan hakekat kita sebagai manusia, dan selanjutnya kita akan dapat juga menentukan  dari mana asal usul kita dan apa tindakan kita untuk mengisi hidup ini.

Ada teori lain yang mengatakan bahwa kita berasal dari debu (diciptakan Allah). Hal ini benar, tetapi pengetahuan ini tidak dapat membuat kita segera menyadari hakekat kita yang sebenarnya. Allah menciptakan manusia memang dari debu, tetapi hakekat manusia jauh lebih tinggi dari “debu”. Bahwa kita mengetahui kita berasal dari debu, tidak membuat kita dapat segera memahami apa yang menjadi tujuan hidup kita.

Maka sekarang, apa yang paling penting ? Mengetahui asal usul kita atau mengetahui hakekat kita ?