A+ A A-

Sejarah GPIB Jemaat Ekklesia - DKI jakarta

PERSEKUTUAN MULA-MULA

"Munculnya sebutir biji sesawi..."

Hari itu tanggal 12 Juni 1954 hari yang bahagia bagi Keluarga Willem Tampi karena Bapak Willem merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-45. Bapak Tampi adalah seorang Karyawan Pabrik Sepatu Bata yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Sebagai Keluarga orang percaya Hari Ulang Tahunnya itu dirayakannya bersama-sama dengan beberapa orang Teman Seiman dengan makan bersama diselingi dengan menyanyikan lagu puji-pujian.

Pada saat itu, Kelompok Kecil yang terdiri dari sekitar sepuluh orang itu, menyatakan keinginan dan kesepakatan mereka untuk membentuk Kelompok orang Kristen di tempat tersebut. Pada masa itu daerah Kalibata masih merupakan daerah yang agak terpencil sehingga gagasan itu benar-benar merupakan langkah awal dari suatu Persekutuan Jemaat yang rindu akan Ibadah pada hari Minggu. Gagasan baik ini segera direalisasikan. Pada hari Minggu berikutnya Kelompok kecil orang-orang percaya ini mulai melakukan Kebaktian Minggu bertempat di rumah Keluarga Tampi di Jln. Pahlawan No. A-3.

”Sebutir biji sesawi ditaburkan...”

rumah keluarga Tampi di Jln. Pahlawan No. A-3.rumah keluarga Tampi di Jln. Pahlawan No. A-3.Setelah Kebaktian Kelompok kecil ini berlangsung beberapa kali atas petunjuk Majelis Sinode GPIB mereka menghubungi Jemaat Gereja Bethel di Jatinegara, karena wilayah Kalibata-Pasar Minggu kala itu termasuk Wilayah Pelayanan Gereja Bethel (sekarang GPIB Koinonia). Di dalam tindak lanjutnya, hanya dalam selang waktu dua bulan dan dua minggu, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1954, dilakukan peresmian Wilayah Pelayanan Kalibata-Pasarminggu sebagai Wilayah Pelayanan III dari Jemaat GPIB Bethel, di samping Wilayah Pelayanan II Polonia serta Wilayah Pelayanan I Jatinegara. Peresmian tersebut dilaksanakan oleh Pendeta S. Manuputty, dan rumah Keluarga Tampi resmi menjadi tempat ibadah yang dilayani oleh seorang Pendeta. ”Benih telah ditaburkan”

”Sebiji sesawi bertumbuh dan berkembang...”

Rasul Paulus sendiri telah memberikan kesaksian bahwa : ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Korintus 3: 6). Semua upaya dan kerja yang dilakukan dalam nama-Nya tidak akan sia-sia. Allah akan memberikan karunia pertumbuhan sebagai hakekat dari sesuatu yang hidup. Kebaktian-kebaktian yang dilaksanakan di rumah Keluarga Tampi mulai berkembang. Liturgi pada awalnya sederhana saja mulai disempurnakan secara bertahap sehingga akhirnya sama dengan liturgi GPIB. Tuhan juga mengaruniakan pertumbuhan dalam bentuk jumlah orang percaya yang menghadiri kebaktian. Jumlah tersebut kian hari kian bertambah sehingga pada suatu waktu rumah Keluarga Tampi tidak mampu lagi menampung seluruh Jemaat yang hadir. Demikianlah, setelah memberikan tumpangan kepada Jemaat Tuhan yang berbakti selama 14 tahun Keluarga Tampi akhirnya merelakan Jemaat untuk mencari tempat ibadah yang lebih luas dan lebih memadai. Rumah yang telah begitu berjasa itu telah lama tergusur dan pada tempatnya kini berdiri Gedung Departemen Tenaga Kerja.

 

BERJEMAAT DI RAWA BAYEM

”Allah mengaruniakan pertumbuhan...”

Hakekat ini dirasakan benar oleh Jemaat Allah yang relatif muda itu. Pada saat-saat rumah Keluarga Tampi sudah dirasakan terlalu sempit sebagai tempat ibadah, Jemaat memperoleh tawaran pembelian sebidang tanah seluas + 600 m2 dari Bapak Komisaris Polisi Harsoyo. Tanah tersebut terletak di Jl. Pahlawan juga, di tengah-tengah kebun karet sebelah barat Taman Makam Pahlawan. Sebuah jalan tanah sempit, yang pada musim hujan berubah menjadi jalan berlumpur, menghubungkan jalan besar dengan lokasi tanah itu. Syarat pembelian yang diajukan Bapak Harsoyo bersifat sangat lunak. Jemaat dapat mencicil pembayarannya sesuai dengan jumlah persembahan syukur yang dikumpulkan dalam setiap kebaktian. Hasil persembahan syukur tersebut ditambah dengan sumbangan dana dari Bapak Laksamana Muda Jahya Daniel Dharma, Pejuang Kemerdekaan yang lebih dikenal dengan nama John Lie, Jemaat muda ini akhirnya berhasil membangun gedung Gerejanya sendiri sesuai petunjuk Bapak Ir. B.E. Tambunan. Inilah hasil kerja keras Jemaat dengan semangat gotong royong yang kuat. Gedung Gereja baru yang terletak di Jl. Rawa Bayem tersebut ditahbiskan pada tanggal 24 Agustus 1969 oleh Pendeta A. Rotti. Peristiwa pentahbisan ini terjadi tepat 15 tahun setelah Kelompok kecil yang beribadah di rumah Keluarga Tampi diresmikian menjadi Jemaat Wilayah Pelayanan III Gereja GPIB Bethel.

Tempat Ibadah, bagaimanapun kecil ukurannya atau bagaimana tersembunyi letaknya selalu menjadi batu penjuru bagi Saudara-saudara kita yang seiman. Jumlah Jemaat yang datang beribadah ke gedung Gereja di Rawa Bayem semakin lama semakin banyak jumlahnya seiring dengan gerak perpindahan penduduk kota Metropolitan Jakarta ke arah selatan yang lebih sejuk dan nyaman. Akhirnya pada tanggal 24 Januari 1971 Jemaat Gereja Rawa Bayem ditahbiskan menjadi Jemaat GPIB EKKLESIA di dalam Wilayah DKI Jakarta Raya sebagai Jemaat yang otonom dan berdiri sendiri. Pentahbisan dilaksanakan sesuai Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB tertanggal 23 Januari 1971. Bapak Pendeta A. Rotti dikukuhkan sebagai Pendeta Konsulen pada Jemaat Ekklesia. Secara keseluruhan dibutuhkan waktu 17 tahun dan 5 bulan sejak peristiwa peresmian pertama kali rumah Keluarga Tampi menjadi tempat Ibadah hingga Pentahbisan Jemaat GPIB Ekklesia serta gedung Gerejanya.

”Dalam terpaan angin dan gelombang...”

Gereja di Rawa BayemGereja di Rawa BayemJalan Rawa Bayem yang berlumpur dan becek sama sekali bukan menjadi halangan bagi Jemaat Ekklesia untuk beribadah dengan tenang di dalam gerejanya yang baru serta melaksanakan kegiatannya dengan tekun. Di dalam ketenangan ini, tiba-tiba terbetik berita bahwa Taman Makam Pahlawan Kalibata akan dipugar dan diperluas. Perluasan itu meliputi tanah tempat lokasi Gereja Ekklesia. Ini merupakan suatu pergumulan yang sangat berat bagi Jemaat. Tidak ada jalan lain kecuali memenuhi perintah pengosongan. Suatu Panitia Penyelesaian Pemindahan Gedung Gereja (P3G2) dibentuk oleh Majelis Sinode yang diketuai oleh Bapak Penatua Y.S. Ayal, S.H. Sebagai Wakil Ketua ditunjuk Drs. Ruben Malonan dan sebagai Sekretaris, Diaken Benny Suwaskito. Melalui pergumulan yang sangat panjang akhirnya gedung Gereja dapat dikosongkan pada tanggal 11 Juli 1980. Uang penggantian pengosongan yang diterima dari Skogar Kodam V-Jaya digunakan untuk membeli tanah seluas 2.300 m2 di Kalibata Timur di bagian tenggara dari Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tetapi gedung Gereja tidak dapat segera dibangun karena tanah yang dibeli ternyata belum siap dibangun. Untuk menanggulangi keadaan tersebut Jemaat Ekklesia terpaksa mencari tempat Ibadah sementara.

”Tetapi tangan Tuhan tetap setia bekerja...”

Di dalam situasi yang tidak berketentuan tersebut, Jemaat Ekklesia diizinkan untuk mempergunakan Aula Komplek Pomad-ABRI di Jl. Kalibata Selatan sebagai tempat Ibadah. Jemaat bersyukur atas kesempatan ini walaupun aula tersebut hanya dapat digunakan pada hari Minggu dari jam 07.00 – 09.00 WIB saja. Izin penggunaan Aula Komplek Pomad diberikan pada bulan Nopember 1981. Oleh karena terbatasnya waktu penggunaan aula maka Jemaat meminjam ruangan di rumah Ibu Busono di Komplek Pomad Jln. Siaga sebagai Kantor Majelis Jemaat GPIB Ekklesia.

”Angin dan gelombang diredakanNya...”

Kendala-kendala yang semula sukar diatasi untuk membangun gedung Gereja di atas tanah yang sudah dibeli di Kalibata Timur, tiba-tiba menjadi reda. Melalui perantaraan Bp. Arnold Mononutu, Pemerintah DKI Jaya, termasuk Bapak Gubernur Tjokropranolo dan Bapak Walikota Jakarta Selatan, menaruh perhatian besar pada pembangunan gedung Gereja yang baru bagi Jemaat Ekklesia. Sebagai pengganti dari tanah 2.300 m2 di Kalibata Timur yang tidak siap bangun, Jemaat diberikan sebidang tanah lain seluas + 600 m2 di Jln. Mega Raya I (sekarang : Jln. Kalibata Timur I No.41, lokasi Gereja kini), bertetangga dengan gedung SMP 182. Lokasi baru ini memiliki tanah yang siap bangun dan jalan penghubung dengan jalan raya untuk mengangkut bahan bangunan. Pemerintah DKI Jaya mengeluarkan SIMB berdasarkan gambar dengan bangunan yang dibuat oleh Bpk. Ir. G.J. Kaunang sedangkan arsitekturnya digambar oleh Ir. Sondy Dahlah. Bapak Ir. Kaunang pada masa itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pengawasan Bangunan DKI. Sesuai dengan areal tanah yang tidak begitu luas makan bangunan Gereja direncanakan berlantai dua, dengan arah Timur ke Barat. Tingkat atas dilengkapi dengan balkon akan menjadi ruang Ibadah sedangkan tingkat dasar akan dimanfaatkan sebagai Kantor Majelis Jemaat, ruang Konsistori, ruang rapat/pertemuan serta tempat kegiatan BPK.

 

PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA DI KALIBATA TIMUR NO. 41

Semula pembangunan direncanakan mulai tanggal 28 Mei 1981 yang diawali oleh upacara peletakan batu pertama yang akan dipimpin oleh Bapak Pendeta S.G. Bulak, Ketua Majelis Jemaat pada masa itu. Rencana tersebut mengalami penundaan hingga tanggal 20 Maret 1983. Ibu Putuhena-Wattimena mendapat kehormatan untuk meletakan batu pertama. Maka dimulailah pekerjaan fisik pembangunan gedung Gereja yang kemudian ternyata membutuhkan waktu lebih kurang 6 ½ tahun untuk perampungannya.

Masa pembangunan yang sekian lama itu merupakan masa ujian kesabaran dan ketabahan yang cukup menegangkan bagi Jemaat, karena dibebani lagi oleh ketidakpastian akan ketersediaan dana yang bersinambung dalam jumlah yang memadai untuk merampungkan pekerjaan-pembangunan hingga tuntas. Masalah pendanaan anggaran biaya pembangunan inilah yang akan merupakan faktor penghambat awal masa pembangunan. Tetapi disini pulalah ”Ia yang setia dan tidak pernah meninggalkan pekerjaan tangan-Nya” menunjukkan kebesaran serta kemuliaan-Nya.

Masalah pendanaan sudah mulai terjadi pada saat pembangunan dimulai pada tanggal 20 Maret 1983. Anggaran biaya yang dipersiapkan pada tahun 1981 hanya sebesar Rp.43.000.000,- Padahal rencana anggaran biaya yang disusun pada tahun 1983 sudah mencapai Rp.75.000.000,- Pada tahun 1983 itu pula terjadi devaluasi mata uang rupiah sehingga anggaran biaya yang disusun sebelum devaluasi menjadi defisit kembali. Pekerjaan pembangunan tidak dapat berjalan lancar sebagaimana diharapkan karena upaya pengumpulan dana berjalan tersendat-sendat. Memang kemampuan ekonomi Jemaat saat itu relatif terbatas karena umumnya Warga Jemaat terdiri dari Pegawai Negeri, Karyawan Swasta, anggota Militer dan para Pensiunan, sedangkan harga bahan bangunan semakin meningkat.

Pergumulan Jemaat dalam doa serta permohonan yang tulus dan terus menerus didengar-Nya. Bukan saja Jemaat tetapi banyak pihak di luar Jemaat menaruh perhatian besar kepada perjuangan Jemaat Ekklesia untuk membangun gedung Gerejanya. Sumbangan-sumbangan mulai melimpah masuk, baik dalam bentuk dana tunai maupun dalam bentuk natura, terutama bahan bangunan yang sangat dibutuhkan. Para Penyumbang terdiri dari perorangan, perusahaan, Gereja dan bahkan Instansi Pemerintah. Pemerintah Pusat melalui Departemen Agama menyumbang Rp.1.500.000,-, Pemda DKI Jaya memberikan sumbangan sebesar Rp.12.500.000,- dan Mupel Jakarta menyumbang Rp.1.000.000,- Sumbangan dalam bentuk Natura terdiri dari semen, batu bata, kosen pintu dan jendela, kerangka besi untuk atap dan plafon, tegel keramik, lampu-lampu penerangan untuk di dalam dan di luar gedung, kipas angin, lonceng gereja, mimbar, dan berbagai barang perlengkapan gedung. Jemaat Ekklesia dengan gigih dan tekun melancarkan aksi-aksi pengumpulan dana di luar lingkungan Jemaat melalui pengedaran amplop sumbangan dan ”inteken-list” serta usaha penjualan parcel pada Perayaan Hari Idul Fitri dan Natal/Tahun Baru. Pengumpulan dana di dalam lingkungan Jemaat sendiri dilakukan secara teratur dan berkesinambungan melalui persembahan khusus ke Kotak Pembangunan, Iuran Pembangunan Bulanan, Amplop, Bazaar, Lelang, serta usaha pengumpulan sumbangan natura/bahan bangunan dari Warga Jemaat. Dapat dibayangkan betapa sulitnya usaha dan upaya ini apabila dilakukan selama 6 ½ tahun terus menerus? Di dalam kenyataannya memang dibutuhkan waktu 6 ½ untuk dapat merampungkan pembangunan Gereja Ekklesia tahap demi tahap sehingga menjadi gedung seperti Jemaat miliki saat ini.

Di dalam proses pelaksanaan pembangunan ini telah terjadi suatu peristiwa penting yang mungkin merupakan dasar ketahanan dan ketabahan Jemaat Ekklesia. Ada baiknya untuk disimak. Dalam waktu 9 bulan dari sejak dimulainya pembangunan pada bulan Maret 1983 hingga bulan Desember 1983, memang belum banyak yang dapat dicapai. Ruangan lantai dasar serta dinding-dinding bangunan sudah dicor, demikian pula lantai untuk ruang atas yang merupakan atap bagi ruang bawah sudah diselesaikan. Tetapi dinding-dinding belum diplester, pintu dan jendela masih dalam bentuk kerangka saja, sedangkan lantai ruang bawah juga masih berlapiskan papan saja. Walaupun demikian Jemaat sudah tidak dapat membendung kerinduan mereka untuk segera berbakti di dalam gedung Gereja mereka sendiri. Oleh karena itu Panitia Pembangunan Gedung Gereja (P2G2) mengambil keputusan agar Jemaat mengadakan Kebaktian pertama di dalam gedungnya sendiri pada tanggal 24 Desember 1983 yang tentu saja bertepatan dengan Kebaktian Malam Natal. Sejak itu Kebaktian Minggu selalu dilakukan di dalam gedung Gereja yang masih belum rampung itu. Dengan ucapan terima kasih kepada instansi yang bersangkutan Jemaat meninggalkan Aula Pomad yang telah digunakan sebagai tempat ibadah selama lebih dari 2 (dua) tahun. Peristiwa penting yang ingin disimak disini adalah bahwa Jemaat menyaksikan sendiri dan mengalami sendiri setapak, setahap demi setahap selama lebih dari 5 (lima) tahun. Mula-mula lantai dasar digunakan sebagai tempat Kebaktian untuk memberikan kesempatan dibangunnya lantai atas. Setelah lantai atas selesai dibangun dengan balkon dan pemasangan atap gedung. Malam Natal tanggal 24 Desember 1985 dirayakan Jemaat di lantai atas. Selanjutnya lantai atas digunakan sebagai tempat Kebaktian untuk memberikan kesempatan kepada P2G2 menyelesaikan lantai dasar. Setelah lantai dasar dirampungkan Jemaat pindah lagi ke lantai dasar untuk perampungan lantai atas. Akhirnya lantai atas pun rampung dikerjakan dan tibalah saatnya Jemaat pindah ke lantai atas sebagai tempat Ibadah Jemaat Ekklesia yang tetap. Pembuatan Kantor Majelis Jemaat, pemasangan pagar, pembuatan mimbar baru, serta pengaturan pertamanan dapat dirampungkan dengan baik. Sesuai perhitungan akhir, biaya yang untuk pembangunan gedung Gereja Ekklesia beserta perlengkapannya berjumlah Rp.250.000.000,- terdiri dari Rp.170.000.000,- dana tunai, dan bahan bangunan serta perlengkapan ditaksir senilai Rp.80.000.000,-

Liku-liku sejarah pembangunan gedung Gereja Ekklesia berakhir pada tanggal 19 Nopember 1989 dalam suatu upacara Peresmian dan Pentahbisan serta penyerahannya kepada Majelis Sinode yang berstatus Badan Hukum Gerejawi dan mempunyai hak pemilikan.

”PUJI TUHAN, KEPALA GEREJA”

Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya namaKu tinggal disitu untuk selama-lamanya, maka mataKu dan hatiKu akan disitu sepanjang masa.
(II Tawarikh 7:16)

”TUHAN TIDAK AKAN MENINGGALKAN PERBUATAN TANGANNYA”