A+ A A-

  • Dilihat: 1413

RAYAKAN PASKA; RAYAKAN KEMENANGAN

Minggu Paska II
Bacaan Alkitab: Bilangan 9: 1-5

Merayakan Paska berarti merayakan kebebasan yang merupakan anugerah Allah bagi manusia. Merayakan Paska berarti membangun ingatan akan campur tangan Allah dalam kehidupan manusia di tengah ketidak-berdayaan manusia untuk membebaskan dirinya dari setiap kuasa yang membelenggu. Karena itu dalam situasi apapun Israel sebagai umat Tuhan selalu diminta untuk mengingat karya pembebasan yang Tuhan telah lakukan kepada mereka.

Merayakan Paska bukan sekadar mengenang apa yang telah Tuhan lakukan di masa lampau, tetapi sekaligus juga untuk membangun sebuah harapan akan hidup di masa depan dalam perlindungan tangan kasih Tuhan. Perayaan ini juga bertujuan untuk mengingatkan umat bahwa mereka terpanggil untuk senantiasa menghadirkan kebebasan dalam hidup mereka. Karena itu jika kita melihat hukum-hukum yang diberikan kepada umat Israel maka hal itu bertujuan agar umat Israel juga dapat menghadirkan kebebasan dalam kehidupan mereka satu dengan yang lain. Menghadirkan kebebasan berarti menghadirkan keadilan di dalam memperlakukan sesama mereka. Peringatan ini terutama sangat jelas dalam aturan tentang bagaimana orang Israel harus memperlakukan budak mereka dan juga dalam bersikap adil kepada orang miskin, orang asing, janda dan anak yatim. Ulangan 24: 18 dengan tegas mengatakan : "Haruslah kau ingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus Tuhan Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku (Tuhan) memerintahkan engkau melakukan hal ini."

Perayaan Paska adalah bagian dari merayakan hidup, sehingga dalam situasi atau kondisi apapun umat Israel diingatkan untuk merayakan karya pembebasan Allah atas mereka. Bilangan 9:1 menginformasikan bahwa Israel sedang berada di Padang Gurun Sin dalam perjalanan mereka menuju tanah perjanjian. Penentuan hari keempat belas mengingatkan orang yang membaca bagian ini akan peristiwa pembubuhan darah pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas dari rumah-rumah orang Israel sebagai tanda yang meluputkan mereka dari ’pembunuhan anak sulung di tanah Mesir’ (Keluaran 12:6-7). Bacaan ini dengan tegas memperlihatkanbahwa waktu tersebut adalah waktu yang dipilih dan ditentukan oleh Tuhan. Karena itu umat Israel diminta untuk merayakan Paska pada waktu yang telah ditentukan Tuhan. Jika mengacu kepada apa yang dinyatakan dalam Keluaran 12 maka waktu itu adalah waktu untuk mengenang bagaimana Tuhan berkarya membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir.

Penentuan waktu secara sepihak oleh Allah pada satu pihak memperlihatkan ketidakbebasan Israel dalam memilih kapan mereka akan mengingat dan memperingati karya Allah yang membebaskan, tetapi di pihak lain memperlihatkan bahwa Allah yang menjadi pelaku pembebasan tersebut. Allah yang berperan dalam karya pembebasan di masa lalu (perbudakan di Mesir) adalah juga Allah yang terus mengambil peran penting dalam kehidupan umat Israel untuk menjadikan pembebasan itu bukan hanya semata pembebasan dari sebuah perbudakan (di tanah Mesir) tetapi pembebasan untuk hidup yang berkenan kepada Allah; hidup yang menghadirkan kasih dan damai sejahtera Allah dalam hidup bersama dengan orang lain.

Selain soal waktu bacaan ini juga dengan tegas mengatakan bahwa umat Israel diminta untuk merayakan Paska sesuai segala ketetapan dan peraturan dalam merayakan Paska. Ketetapan dan peraturan yang dimaksud mengacu pada apa yang diuraikan dalam Keluaran 12:1-28,43-51. Menarik bahwa jika kita memperhatikan ketetapan dan peraturan tentang Paska dalam Keluaran 12:1-28, 43-51 maka kesan yang muncul adalah ketetapan dan peraturan tersebut adalah untuk sebuah masyarakat yang sudah menetap dan memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang lebih baik. Penyebutan rumah dan budak menjadi ciri dari sebuah masyarakat yang menetap, bukan masyarakat nomaden seperti Israel yang masih ada dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Memiliki seorang budak tentulah bukan gambaran yang pas bagi Israel yang justru baru saja dibebaskan dari statusnya sebaqai budak di tanah Mesir. Karena itu ada ahli Perjanjian Lama yang berpendapat bahwa aturan-aturan tentang Paska sebenarnya berasal dari zaman kemudian, di mana Israel sudah menjadi sebuah bangsa yang menetap di wilayah kediaman mereka sendiri.

Apapun konteks dari ketetapan dan peraturan tentang Paska, tidak terlalu penting. Sebab yang ingin ditekankan dari bacaan ini adalah ketaatan umat Israel dalam merayakan Paska sesuai ketetapan dan peraturan yang ada. Ketaatan sebagai umat kepada Dia yang telah memberikan kebebasan kepada mereka merupakan hal penting yang ingin ditekankan. Ketaatan tersebut dinyatakan dalam kalimat : "tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel".

Gambaran ini sekaligus juga memperlihatkan arti dan tujuan hidup sebagai umat yang dibebaskan. Pembebasan yang dilakukan Allah terhadap bangsa Israel tidak berarti memberikan mereka kehidupan yang bebas tanpa tatanan atau hidup menurut kehendak mereka sendiri. Perintah untuk merayakan Paska sesuai ketetapan dan peraturan yang ada memperlihatkan bahwa sekalipun Israel sekarang menjadi sebuah masyarakat yang bebas, lepas dari tekanan dan jajahan bangsa lain, namun Israel diminta untuk selalu hidup sesuai tatanan yang ada, yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Hidup sesuai tatanan yang ditetapkan Allah berarti hidup dalam ketaatan kepadaAllah. Dengan kata lain, taat kepadaAllah berarti hidup menurut tatanan yang ditetapkan-Nya. Jadi yang utama adalah ketaatan kepada Allah, dan yang utama itu jangan dialihkan kepada kepatuhan hidup menurut tatanan yang ada. Hanya dengan pola pikir bahwa Allah ditempatkan sebagai yang utama dan manusia ditempatkan sebagai pihak yang merespon kehendak Allah maka kita bisa memahami apa yang dikatakan Yesus dalam Markus 2:27: ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”. Karena di dalam praktek, hukum dan aturan seringkali ditempatkan jauh lebih utama dari Allah dan kehendak-Nya bagi hidup manusia. Dengan demikian Paska yang dirayakan umat Israel adalah sebuah perayaan kebebasan dengan penekanan pada ketaatan kepada Allah. Karena Paska adalah juga cerita tentang ketaatan bangsa Israel kepada ketetapan Allah yang merupakan bagian dari karya pembebasan Allah atas bangsa Israel. Karena jika mereka tidak taat dalam melakukan apa yang Allah tetapkan bagi mereka sebelum pembunuhan atas anak-anak sulung di Mesir, maka bisa saja mereka tidak merasakan karya pembebasan yang Allah rencanakan bagi mereka.

Perayaan Paska yang oleh orang Kristen dikaitkan dengan karya Allah melalui Yesus Kristus yang membebaskan manusia dari dosa-dosa mereka juga memiliki makna hakiki yang sama. Paska yang dirayakan oleh orang Kristen haruslah juga menjadi sebuah perayaan hidup dalam membangun ketaatan kepadaAllah dengan melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita bersama dengan orang lain. Merayakan Paska berarti merayakan hidup sebagai orang merdeka, dan sekaligus juga menghayati panggilan untuk senantiasa menghadirkan kemerdekaan itu dalam hidup bersama orang lain. Kemerdekaan, oleh Paulus diartikan sebagai kesempatan untuk saling melayani satu dengan yang lain dalamkasih (Galatia 5:13). Atau kemerdekaan yang oleh 1 Petrus 2:16 dimaknai sebagai hidup sebagai hamba Allah dan bukan kemerdekaan dalam menyelubungi kejahatan-kejahatan yang dilakukan. Karena itu Paska yang orang Kristen rayakan jangan hanya dimaknai sebagai penyelamatan dari kebinasaan karena dosa. Penyempitan makna paska hanya pada persoalan agama akan menyempitkan juga tanggung jawab kita sebagai orang yang telah diselamatkan yang dihadirkan di tengah-tengah dunia untuk menghadirkan kebebasan itu. Paska haruslah juga dimaknai sebagai karya Allah dalam membebaskan manusia dari kuasa­kuasa yang tidak memanusiakan manusia dan yang menjauhkan manusia dari perannya sebagai rekan sekerja Allah sebagaimana nyata dalam kisah penciptaan manusia. Itu berarti merayakan Paska berarti memperbaharui panggilan dan tanggung jawab kita sebagai manusia dalam memelihara dan merawat bumi ini. Juga memerdekakan bumi ini dari kuasa-kuasa manusia yang hanya mengeksploitasi bumi bagi kepentingan dirinya sendiri. Sehingga keadilan dan kesejahteraan hidup bersama jangan hanya menjadi angan-angan semata. Karena itu janganlah merayakan Paska dengan menjadikannya hanya sebuah festival atau ritual di gereja, tetapi juga melalui karya-karya nyata yang membebaskan manusia dari kuasa ketidakadilan dan karya nyata yang membebaskan bumi  ini dari ekploitasi demi ketamakan hidup manusia saja. Itulah perayaan Paska yang mencerminkan ketaatan kepada Tuhan.