A+ A A-

  • Dilihat: 1123

NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU

Minggu Parapaska III
Bacaan Alkitab: Yesaya 42: 10-12

Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena kita diberi kesempatan untuk beribadah dalam suasana dan situasi hidup kita masing-masing. Mengikuti ibadah seperti ini menjadi amat penting bagi kita karena melaluinya kita mengalami persekutuan dengan Tuhan, mengalami persekutuan kita satu dengan yang lain. Melalui ibadah ini kita dibekali oleh Firman yang akan menguatkan kita dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Kita pun dimampukan untuk memuliakan Tuhan; dimampukan untuk menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan.

Sebagai gereja kita memasuki Minggu prapaskah III, Pembacaan kita dari Yesaya 42: 10-12 (dibaca sampai ayat 17) merupakan Mazmur puji-pujian tentang kedatangan Tuhan kelak. Ayat 10-12 yang menjadi perikop renungan kita, merupakan seruan untuk menaikkan pujian-pujian kepada Tuhan. Sebagai nyanyian puji-pujian, Yesaya 42: 1 0-12 (-17) rnemlliki kesamaan isi dengan Mazmur 96,98 dan 33. Mazmur-mazmur tersebut mengajak umat untuk selalu menyanyikan nyanyian baru kepada Tuhan karena Tuhan telah "meletakkan hukumNya di bumi" (Mazmur 96:13; Mazmur 98:9; Mazmur 33:4-12), dan dengan itu diperbaharuinya dunia. Dalam kitab Wahyu, nyanyian baru dinyanyikan bagi Anak Domba Allah (Wahyu 5:9) yang menjadi Hakim dunia yang menjalankan penyataan langit baru dan bumi baru (Wahyu 21 : 1).

Kedatangan Tuhan patut disambut, bukan oleh umat saja, melainkan oleh seluruh manusia dan segenap alarn, dari ujung-ujung bumi dan pulau-pulau karena keselamatan telah sampai juga kepada mereka. Semua makhluk patut memberi penghormatan kepada Tuhan dan mengakui kemuliaan-Nya. Karena itu Yesaya mengatakan kalau Tuhan Sang Khalik datang, maka alam seluruhnya menyambut Dia dengan sukacita. Manusia diharapkan turut bergembira, bersorak-sorai dihadapan-Nya.

Siapakah Tuhan (Hamba Tuhan) yang dimaksudkan di sini, yang kedatangan-Nya disambut dengan puji-pujian? Semula Yesaya berbicara, yang dimaksud dengan hamba Tuhan dalam rangkaian nyanyian ini adalah Israel. Tetapi ketika Israel gagal menjadi hamba Allah yang benar, maka lambat laun yang tampak dalam rencana Allah bukanlah suatu bangsa, melainkan satu orang yang akan menjadi Hamba Yang Benar.

Siapakah hamba yang benar itu? Dia adalah Yesus Kristus. Yesus adalah Hamba yang dinubuatkan Yesaya yang akan menyelamatkan manusia melalui penderitaan dan pengorbanan-Nya yang telah ditanggung-Nya demi mereka (lihat Yesaya 42: 1-9 band. Matius 12: 15-(21). la telah datang ke dunia. Ia rela menderita, mati menggantikan hukuman yang seharusnya ditimpahkan kepada kita. Ia memberi hidup-Nya agar kita hidup, dan menikmati hidup yang kekal. Ia telah memberikan keselamatan untuk kita, namun hanya setiap orang yang percaya dan menerima Dia yang mengalami karya keselamatan itu di dalam hidupnya (band. Yohanes 3:16). Karena itu kehadiran Yesus bagi dunia dan bagi kita, disambut dengan puji-pujian. Semua orang yang telah mengalami karya-Nya pasti akan memuliakan Dia. Sebab siapakah kita manusia sehingga diselamatkan melalui penderitaan dan pengorbanan-Nya? Hanya karena kasih karunia-Nya kita telah diselamatkan. Tidak hanya manusia yang bernyanyi atas karya-Nya, tetapi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Kehadiran-Nya telah membawa pembaharuan bagi kehidupan kita dan dunia. Dengan pembaharuan-Nya, kita hidup dalam damai, ketenangan dan kebahagiaan. Itulah sebabnya kita dipanggil untuk menyanyikan nyanyian baru.

Nyanyian baru adalah nyanyian kehidupan sebagai buah dari karya keselamatan-Nya. Kita dipanggil untuk menyanyikan nyanyian baru dan bukan nyanyian lama. Nyanyian lama adalah nyanyian yang penuh dengan kedengkian, kebencian, iri hati, dendam, dan kejahatan.

Nyanyian baru hendaknya selalu kita nyanyikan melalui hidup dan karya kita di mana pun kita berada. Ketika dunia telah terpuruk oleh berbagai kejahatan, kesusahan, musibah, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan dan kesulitan hidup lainnya, Gereja dan orang percaya dipanggil untuk meneruskan dan memberitakan karya keselamatan dengan menyanyikan nyanyian baru. Gereja dan orang percaya diutus untuk menyanyikan nyanyian keselamatan, agar semua umat manusia, dunia dan alam semesta turut bernyanyi.

Di Minggu prapaskah III, mari kita hayati secara baru pengorbanan-Nya. Mari kita alami karya-Nya dalam hidup kita. Mari kita agungkan karya-Nya. Kita muliakan Dia Tuhan, Juruselamat dunia. Karena hanya Dia yang patut menerima puji-pujian. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-Iamanya (Roma 11 :36).