A+ A A-

  • Dilihat: 874

SEHIDUP SEMATI

Minggu XIV Sesudah Pentakosta
Bacaan Alkitab: 2 Korintus 7: 2-4.


Jika Allah berkenan, satu setengah bulan ke depan, GPIB akan menyelenggarakan Persidangan Sinode ke-19 di Jakarta. Sekarang ini GPIB telah memiliki 297 jemaat. Diperkirakan jumlah jemaat GPIB pada bulan Oktober adalah 300 jemaat. Jikalau semua perwakilan jemaat datang ke Persidangan, berarti jumlah peserta jemaat sebanyak 900 orang, ditambah wakil Musyawarah Pelayanan, Badan-badan Pelaksana, dan para undangan, maka akan berjumlah sekitar 1000 orang.

Bacaan kita tidak mengisahkan kehadiran Rasul Paulus dalam sebuah persidangan gereja, namun mengenai bagaimana upaya kedekatan rasul Paulus dengan jemaat-jemaat yang ia layani seperti jemaat di Korintus.

Di manakah letak kedekatan Paulus sebagai pemimpin dengan umat yang dilayaninya? Seperti kita tahu bahwa kedekatan seorang pelayan dengan jemaat ditentukan oleh banyak faktor, misalnya karena jemaat yang dilayani adalah sesama suku atau karena banyak anggota keluarga atau karena jemaatnya ramah dan penuh pengertian. Jika demikian, bagaimana kedekatan kita dengan jemaat yang bukan sesuku, bukan dari keluarga, atau yang tidak ramah dan sulit untuk dipahami? Apakah sang pelayan masih bersemangat dalam membina kedekatannya dengan jemaat? Atau ia menyerah dan meminta alih tugas ke jemaat yang lain, dimana norma-norma dan nilai-nilai pendekatannya dapat diterapkan?

Rasul Paulus berpendapat bahwa pelayanan yang ia lakukan tidak tergantung dari sejumlah syarat yang diajukan kepadanya. Karena jika hal ini yang ia terapkan, maka ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk mendekatkan dirinya dengan jemaat yang ia layani; dan juga tidak mampu membina suatu kedekatan yang bersifat komprehensif dan langgeng. Padahal menjadi seorang pemimpin yang melayani adalah bahwa ia harus berusaha agar pelayanan yang dilakukan berjalan dengan lancar dan membangun jemaat. Hal itu dapat ia lakukan apabila memiliki kedekatan dengan jemaatnya.

Rasul Paulus mempunyai konsep kedekatan dengan jemaat. Kedekatan itu berawal dari gerakan hati dari mereka yang terkait dalam pelayanan jemaat. Jika tidak, maka tidak banyak harapan.

Rasul Paulus menggambarkan bagaimana semestinya menggunakan kata hatidalam membina kedekatan diantara anak-anak Tuhan. Memang, tidak mudah sebab Paulus sedang mengalami distorsi dari jemaat yang sedang kecewa berat terhadap dirinya karena dianggap ingkar janji untuk mengunjungi mereka. Belum lagi alasan kekecewaan jemaat terhadap Paulus telah dimanfaatkan oleh rasul-rasul palsu untuk memprovokasi jemaat agar melawan Paulus. Untung Paulus memiliki integritas diri yang kuat. la tidak serta-merta marah dan menghakimi jemaat. Ia sadar bahwa apabila ia menghakimi jemaat yang pernah dilayaninya, akan membuat jarak antara dirinya dengan mereka. Jikalau hal ini berkembang luas maka Paulus akan kehilangan waktu, pikiran, dan tenaga untuk melayani jemaat yang dicintainya. Sebagai pelayan umat, yang Paulus butuhkan adalah bagaimana memelihara panggilan Tuhan untuk melayani jemaat. Paulus sadar bahwa ia tidak akan melayani jemaat, apabila jemaat menjauhinya.

Konsep pendekatan yang Paulus kembangkan adalah mendengar suara hati nurani jemaat yang hidup berpadanan dengan panggilannya, bukan mengikuti pendiriannya sendiri. Oleh karena itu, Paulus mengatakan, "Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu!" (ay 2a). Pendekatannya tidak serta merta menjatuhkan hukuman kepada jemaat Korintus (ay 3a), tetapi berempati, "karena kamu telah beroleh tempat di hati kami, sehingga kita sehidup-semati" (ay 3b). Bukan main!

Jemaat Korintus yang menyulut konflik awal, tidak dijadikan alasan bagi Paulus untuk menyalahkan, merugikan, atau menjatuhkan hukuman kepada mereka, karena hal itu akan membuat jarak yang makin jauh. Yang Paulus tempuh adalah berusaha berempati, yakni memahami suara hati nurani jemaat, tentang apa yang sedang dipikirkan dan dilakukan jemaat. Paulus justru berterus terang. Ia memegahkan jemaat, menyatakan keterhiburannya, dan menyampaikan sukacitanya yang berlimpah-limpah. Mengungkapkan hal positif demi memelihara komunikasi yang baik dengan jemaat merupakan tugas yang elegan. Berbicara dari hati ke hati dan merasa sehidup-semati, menggambarkan jiwa besar Paulus untuk menyatu dengan jemaat Korintus yang ia layani. Kalau semua wakil jemaat dan Majelis Sinode datang ke persidangan sinode dengan semangat kese-hatian, sehidup-semati, dan berbicara dari kedalaman hati nurani, serta penuh empati dan santun, maka hasil yang akan dicapai akan sangat sebanding dengan dana persidangan yang besar, sebagai persembahan syukur GPIB kepada Tuhan.