A+ A A-

  • Dilihat: 212

Nikmat Menjadi Laknat?

MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Amsal 5: 1 - 14

”Hai anakku, perhatikan hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan,.." ayat 1

Perjalanan bahtera rumah tangga Adam dan Hawa mengarungi samudera kehidupan sedang menghadapi prahara. Awal bahagia penuh romantika cinta, kini menyisakan petaka. Petuah-petuah kasih sebagai fondasi membangun keluarga kristiani, hancur luluh meninggalkan keluh. Usaha keluarga yang telah dirintis bertahun-tahun telah memasuki masa kritis. Kesemuanya merupakan akibat dari ketidaksetiaan memelihara komitmen cinta suami-istri. Perselingkuhan Adam dibalas oleh Hawa dengan sandiwara cinta sehingga mengubah canda menjadi air mata. Hidup melimpah harta, tapi melarat cinta. Sungguh sayang, kisah hidup mereka, tidak seperti Midun dan Halimah, dalam novel ”Sengsara Membawa Nikmat” karya sastrawan ternama, Tulis Sutan Satin. Cerita cinta mereka lebih mirip Charles dan Diana, ”nikmat membawa sengsara”.

Sastrawan penulis kitab Amsal mengajak pembaca memperhatikan hikmatnya. Hikmat yang bersumber dari Tuhan, menuntun umat berlaku bijaksana dan berkata benar. Sebaliknya, bujuk-rayu perempuan jalang, penulis Amsal menasihati pembaca agar menjauhinya. Perempuan jalang adalah cerminan ketidaksetiaan dan kepalsuan. Perkataannya manis seperti madu dan lebih licin dari minyak. Terdengar mempesona dan menjanjikan kenikmatan. Namun sejatinya, pahit bagaikan empedu dan tajam seperti pedang bermata dua. Orang yang tergoda mengikutinya akan disebut orang yang tidak setia. Merasa nikmat namun tidak menuai berkat. Nikmatnya berbuah laknat.

Ketidaksetiaan  terhadap  perkawinan  sejatinya  merupakan penyangkalan terhadap curahan berkat  kasih  Allah terhadap suami-istri. Sungguh memprihatinkan, rumah  tangga Kristiani  yang berfondasikan cinta, runtuh karena zinah. Betapa menyedihkan, remaja dan pemuda bermasa depan  cerah  berakhir gulita, karena tidak berhikmat dalam bergaul. Sebab itu, jangan sia-siakan waktu  hidupmu dengan pergaulan sia-sia berujung sesal. Manfaatkan karya hidup untuk menyatakan syukur pada Allah dan menaburkan cinta tulus bagi keluarga. Marilah berpegang teguh pada hikmat Allah, jadilah manusia bijaksana dan pribadi yang setia. Niscaya bukan nikmat membawa sengsara, tapi sengsara membawa nikmat. Nikmat menjadi berkat.

 

R.F.P/af