A+ A A-

  • Dilihat: 2978

“I love you full, Ekklesia!”

Berawal dari episode akhir 1983, keluargaku kembali ke Tanah Air, setelah belasan tahun menunaikan tugas pekerjaan di Garuda Indonesia di Tokyo Jepang. Ketika itu aku sedang menuntut ilmu, kuliah di Bandung,... tempat berjemaatku baru saja dilembagakan menjadi GPIB Bethel Bandung.  Tanah di Jalan Kalibata Timur I/41 masih  belum berdiri gedung semegah ini.

 Pokoknya bentuknya belum secantik gereja sekarang ini. Akhir tahun 1986 setelah menjalani wisuda aku kembali bergabung dengan keluargaku di kawasan jalan raya Pasar Minggu, Kompleks Garuda namun sempat absen 3 (tiga) bulanan mendampingi ayahku yang dirawat di ibukota Jepang Tokyo. Sepulangnya kami dari perawatan, Aku mendapat pekerjaan di Jakarta layaknya sarjana baru. Sementara aku sendiri masih terdaftar sebagai pelayan BPK PA GPIB Bethel Bandung. Namun karena pekerjaan, maka aku perlahan-lahan mulai aktif di gereja yang baru kukenal GPIB Ekklesia DKI Jakarta yang mulai terlihat bentuk bangunannya.

Melayani di GPIB Ekklesia
Ayahku dalam perawatan karena sakitnya merekomendasikan aku supaya menuangkan pikiran / hikmat dan kemampuanku di gereja ini.
“Ekklesia ini butuh perhatianmu Glenn, mereka baru membangun....!” begitu kira-kira pesan ayahku saat itu. Lalu pada kesempatan berjumpa dengan pendeta dan Ketua Majelis Jemaat Pendeta Ibu Lies T. Alouw, aku diarahkannya untuk mengajar teruna. Saat itulah aku mulai mengenal Adee Tiwow, Ibu Iin Sumarno, Ibu Saimin dan pembina lainnya. Tahun 1988 ayahku dipanggil pulang ke Rumah Bapa. Jenazahnya disemayamkan di Gereja yang sangat digumulinya. Ibadah pemakamannya dilayani oleh Pendeta Lies. T. Alouw.

Sahabat setia di Ekklesia
Saat berduka itulah aku dipertemukan dengan sahabat baruku pertama kali. Maxirae Barnella namanya. Perawakan yang tinggi (lebih tinggi dariku sedikit) membuat kami diledek kaum muda saat itu sebagai menara gerejanya Ekklesia. Maxi adalah wakil ketua Gerakan Pemuda waktu itu, dan saking akrabnya denganku diapun melayani Persekutuan Teruna GPIB Ekklesia.  Seiring perkembangan waktu persahabatan kami melebar dengan bergabungnya sang organis Thomas Panese. Tak sampai setahun akupun mengalami peneguhan sebagai Pengurus BPK Persekutuan Teruna dengan penugasan sebagai Sekretaris. Ketuanya ibu Adee Roeroe-Tiwow dan Bendaharanya Ibu Iin Sumarno. Pengurus BPK Persekutuan Teruna hanya 3 orang dan aku laki-laki sendiri. Awal dekade 90an bergabunglah seorang vikaris beraroma pangi, Semuel Karinda, dengan kecocokan dan kesehatiannya, dia bergabung bersama Maxi, Thomas dan aku. Setiap kami dalam kesehatian didalam persekutuan jemaat Ekklesia, selalu aktif dan terlibat dalam hampir semua kegiatan kepanitiaan di masa awal dekade 90 an. Kamipun turut mengantar pasangan Ekklesia terpopuler saat itu Johan Tumanduk dan Meiske Mustamu ke dalam suasana pernikahan.

Menjadi Koordinator Regio BPK PT Jakarta Selatan
Aku yang sangat rindu menyenangkan hati TUHAN dengan pelayananku, tak terlepas dari pesan almarhum ayahku, di saat sang Ketua BPK PT dalam keterbatasannya dalam kesehariannya karena kodratnya sebagai wanita, maka pengurus paling “ganteng” inipun berkiprah dalam pertemuan regio di Jakarta Selatan. Entah kenapa Tuhan melalui para perwakilan BPK PT dalam jemaat regio Jakarta Selatan, memilih aku sebagai koordinator regio. Masih teringat kata-kata tantangan datang dari Kamang Mirah, putra Pendeta Mirah, KMJ GPIB Markus ketika itu,
“Gak gampang lho, jadi Koordinator Regio, Regio ini mesti lebih aktif dan bergairah dari yang sebelumnya...” katanya, yang aku jawab
“Kiranya TUHAN menuntunku dan kalian mendukungku....” Jadilah aku seorang koordinator regio Jakarta Selatan di bawah pimpinan Pdt. S.Th. Kaihatu, STH,  tercananglah program kerja diantaranya pertukaran mimbar antar Pembina Teruna, Ibadah Bulanan se Regio, dan Program Lawat Layan yaitu program Koordinator melawat dan melayani anak-anak teruna di masing-masing jemaat dalam regio Jakarta Selatan yang membuat aku dapat bertemu kenal dengan setiap anak layanku di Jakarta Selatan. Program kerjaku mendapat dukungan penuh dari Ketua III BP Mupel alm Pdt. W.K.D. Mengko STh. Ketika Victor Worotikan, Koordinator Wilayah DKI Jakarta BPK Persekutuan Teruna absen untuk mengikuti training ke Singapore dari tempat kerjanya, aku ditunjuk Pendeta Mengko menjadi Caretaker. Adalah Maxi yang setia mendampingiku menjalankan program pelayananku di Regio Jakarta Selatan maupun di wilayah DKI ketika itu. Jadi ketika Maxi terpilih menjadi anggota Dewan Teruna ketika itu, adalah buah dari kesetiaannya mendampingi aku ketika menjalani pelayananku sebagai Koordinator Regio Jakarta Selatan.

Melayani Jemaat sebagai anggota Majelis Jemaat
Waktu berkiprah di regio Jakarta Selatan terasa sangat singkat, karena aku ditangkap Tuhan kembali melayani di ”rumah” sebagai salah satu anggota Majelis Jemaat dari sektor pelayanan VI berdampingan dengan ibundaku tercinta yang terpilih lagi. Ini merupakan peristiwa langka dimana Ibu dan Anak, dipercaya Tuhan melayani jemaat Ekklesia. Kemudian bersama dengan Bapak Joseph Pesik, kami menjalankan fungsi pelayanan kami dalam Komisi Daya dan Dana, dan sempat mengadakan Malam Dana di restauran Theater Manari serta Bazaar Ekklesia di wisma DPR ketika itu.aku mengalami masa-masa penuh kasih dibawah penggembalaan Pendeta Lies T. Alouw, Pendeta AR. Ihalauw, Pendeta Obed Sahulata, Pendeta Freddy Suwu. Kepengurusan di BPK PT mengalami penggantian, di mana serah terimanya dilakukan antara saya dan istri saya Vera, karena dia yang menggantikan saya menjadi sekretaris BPK Persekutuan Teruna. Karena pekerjaan dan karir membuat kami bertiga (saya, Vera istri saya dan Joel putra saya) terpaksa meninggalkan suasana persekutuan dengan penuh sukacita di GPIB Ekklesia ketika itu.

Meninggalkan GPIB Ekklesia DKI Jakarta
Pindahlah kami ke Surabaya, dan disana kami dikaruniakan ‘malaikat’, anak perempuan kami yang kami beri nama Angelique Gloriana. Aku berjemaat di GPIB Eben Haezer dan bertemu lagi dengan Pendeta A.R.Ihalauw, MTh. Setelah Surabaya, karirku mengajakku berputar mengelilingi pulau Jawa, kami berdomisili di Yogyakarta, berjemaat di GPIB Margomulya yang digembalai Pdt. Jeffry Sompotan mantan Sekum Majelis Sinode, kemudian kembali ke Bandung, kami sempat berjemaat di Jakarta, ketika itu di GPIB Anugerah dan bertemu lagi dengan Pendeta A.R.Ihalauw, MTh lalu aku mendapat tantangan baru sebagai General Manager di sebuah resort di Pantai Kuta aku berjemaat di GPIB Ekklesia Kuta Bali berlokasi dekat dengan Bandara Ngurah Rai yang dilayani Pendeta Broery Assa alm. Akupun mengalami dahsyatnya Bom Bali Pertama yang meruntuhkan perekonomian di Provinsi itu. Dua tahun berkarya di Bali, situasi lumpuhnya perekonomian di Bali membuat aku menjadi pimpinan hotel yang tidak menerima gaji. Pada saat itu di kompleks Garuda, rumah kami di nomor 55 terjual dan aku mendapatkan bantuan kunjungan kasih dan finansial dari ibundaku. Kemudian tahun 2003 kami memutuskan menerima tawaran kerja sebagai General Manager di Makassar Golden Hotel. Aku berjemaat di GPIB Immanuel Makassar dan bertemu lagi dengan KMJnya yang adalah Pendeta Lies T. Alouw, STh. Tahun 2005 aku mendapat tugas, kini dengan kelompok manajemen Accor di pulau Batam, aku menyekolahkan anak-anakku di Yapendik GPIB di Batam. Satu tahun di sana, aku mendapat ajakan dari teman GMku di Makassar untuk menjadi preopening manajemen team di Clarion Hotel & Convention di Makassar. Kami berpisah, aku melanjutkan karirku di Makassar, Vera dan anak-anak pulang ke Bandung, mengingat ayah mertuaku Bapak S.W.Lontoh mulai sakit-sakitan. Kembali ke Makassar, kini aku berjemaat di GPIB Bahtera Hayat yang dilayani oleh Pendeta Marlene Joseph, yang kepadannya aku titipkan kedua anjing kesayanganku ketika aku di Makassar pada periode sebelumnya.

Diaken Ny. Emelia A. Voerman Sigarlaki
Tahun 2006, ibundaku Diaken Ny. Emelia A. Voerman-Sigarlaki dimuliakan Allah Bapa di Surga, ketika aku sedang bekerja, membangun sumber daya manusia perhotelan di Makassar Sulawesi Utara. Pemakaman dilayani oleh Pendeta Dambo Melatunan. Aku kembali ke gedung megah ini dengan rasa kehilangan yang begitu besar. Maka kira-kira sampai dua tahun setelah Mama pergi, setiap menyanyikan lagu-lagu Kidung Jemaat, mataku berjuang melawan haru. Sampai aku meminta Tuhan benar-benar kuatkan aku supaya aku tidak lemah dan digoda oleh si Jahat. Karena dalam keseharianku aku punya lagu kenangan dengan Mama itu rupanya semua ada di Kidung Jemaat. Syukurlah Tuhan, melalui Majelis Sinode, mengijinkan terbitnya Gita Bakti dan PKJ. (he he he hee) 

VG Glorian
Banyaklah hal yang tidak dapat kuutarakan satu persatu tentang kisah cintaku dengan Ekklesia, di dalam lingkungan BPK Persekutuan Teruna, aku mengenal 4 gadis cantik bersuara merdu (Sandra Regina Pollatu, Noriko Marianne Kulas, Nova Sri Pujiastuti dan Lisa Manginda) yang rindu memuliakan Tuhan dan dengan sukarela bergabung dalam Vokal Group GLORIAN sebuah nama yang diberikan pada vocal group BPK Persekutuan Teruna oleh Pendeta Lies Alouw ketika itu dengan dibantu oleh rekan sepelayanan Dorma Susi Hutadjulu dan Ricky Barnella, mereka menyanyikan lagu-lagu karyaku yang kupersembahkan pada Tuhan.

Kisah Sepasang Teruna
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mengakhiri ocehan saya di malam yang penuh sukacita ini saya ingin membagi pengalaman yang tak terlupakan di dalam pelayanan di Persekutuan Teruna. Dalam kesibukan saya melatih vocal group BPK Persekutuan Teruna, di lantai bawah ini, tiba-tiba datang  teruna perempuan datang padaku dan curhat katanya,
“Kak Gelen, aku suka sama si J, tapi aku tidak bisa menyampaikan lebih dulu khan....?” itu juga disampaikan ditengah-tengah suasana latihan vocal group BPK PT. Aku menasihati anak teruna perempuan itu, untuk sujud berdoa jam 23.00 bertanya kepada Tuhan jika mungkin J itu pemberian Tuhan. Esoknya ketika kami sedang istirahat latihan, datang seorang teruna pria yang langsung curhat pada saya,
“Kak Glenn, saya naksir banget sama si N....” akupun menasihatinya dan meminta sang teruna tersebut berdoa pada jam 23.00 dan meminta Tuhan memberikan kepastian jika perempuan itu akan jadi miliknya. Kemudian nasihatku ke teruna itu, Jika kamu sudah berdoa dengan sepenuh hati, sampaikan isi hatimu kepada N, dahului dengan kata-kata.
“N, semalam aku bergumul dan bertanya pada Tuhan tentang calon teman hidupku......” baru setelah itu kamu menyatakan bahwa kamu sangat mengasihinya, demikian nasihatku.
Gayung sudah bersambut kelihatannya. Mereka kembali kepadaku dan menyatakan bahwa bereka berdua sudah saling menyatakan perasaan mereka. Lalu aku sampaikan apa yang pernah kupelajari, yaitu J dan N tetap setia melalukan hubungan dia setiap malam, menciptakan komunikasi segitiga antara kalian dengan Tuhan Yesus Kristus. Kisah selanjutnya kita sama-sama tahu kalau mereka sekarang adalah pasangan suami istri,...yang kita kenal yaitu Bapak Diaken Julius Cahyono dan Ibu Nova Tricianny Immanuella. Keberadaan dan pelayanan yang mereka lakukan, teladan yang sudah mereka tunjukkan kepada Teruna dan Jemaat GPIB Ekklesia masa kini, membuatku bersukacita dan bersyukur kepada Allah Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus, yang memberikan aku hikmat dalam menyatukan Julius dan Nova di dalam kasih Tuhan. Kejadian ini sebenarnya ingin kuungkapkan ketika kami hadir di pernikahan mereka, namun Tuhan baru mengijinkannya sekarang.

Kendati secara resmi alm Pendeta Freddy Suwu telah menandatangani surat atestasi pindahku ke jemaat GPIB Eben Haezer Surabaya, aku masih merasa bagian dari GPIB Ekklesia, kendati kini ibundaku sudah tiada, bagiku amanat ayahku dan kebersamaan dengan ibuku di jemaat ini terlalu sulit untuk dilupakan. Kini aku tetap hadir di jemaat Ekklesia melalui www.gpib-ekklesia.org. Karena ‘Bapa segala bangsa’ bung Diaken Abraham Hutadjulu, dengan gigih memintaku untuk dengan rutin mempersembahkan tulisan-tulisanku di situs itu. Fisik boleh berada di Bandung tetapi hatiku masih tercecer di Ekklesia dan kebetulan akupun senang menulis.

Usia 40 tahun adalah suatu permulaan... Ada ungkapan dalam bahasa Inggris “Life begins at forty”, marilah kita kembali memulai, kita refresh dan restart deru detak pelayanan kita, kita telah dipanggil keluar “Ekklesia” untuk menjadi surat Kristus, untuk menjadi saksi hidup tentang karya keselamatanNya. Saya dan keluarga besar Voerman Sigarlaki, keluarga Voerman-Lontoh dengan penuh sukacita menyampaikan syukur dan Selamat Ulang Tahun GPIB Ekklesia DKI Jakarta yang ke 40.

Halleluyah!

S.Glenn Voerman, 01