A+ A A-

  • Dilihat: 2644

Satu Hari Minggu di HCMC

Setibanya di Bandara Tan So Nhat, Ho Chi Minh City (HCMC), setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih 2 jam dari Changi Airport, yang ada di benak saya adalah saya ingin ke gereja disini, seperti kalau saya ke kota atau negara lain dan kebetulan harus melewati hari Minggu di kota/negara tersebut.

Tapi di HCMC ada tidak gereja..??? Karena walaupun saat ini Vietnam sudah menjadi Negara sosialis tetapi suasana komunis masih kental dan terasa sekali… bahkan masih sering dikatakan bahwa Vietnam itu Negara komunis. Hal inilah yang menjadi unik dibandingkan negara-negara lain yang saya kunjungi.

Saya tidak ingin sharing tentang kota HCMC atau dikenal dengan Saigon, karena teman-teman dapat membacanya di internet. Saya hanya ingin sharing pengalaman saya mencari gereja dan mengikuti ibadah di Negara komunis ini.

Saat Jumat tiba, saya mencari informasi tentang Gereja Presbyterian atau gereja Protestan  apa saja yang saya dapat ikuti Ibadahnya saat hari Minggu.. Dari informasi di Google, saya mendapat nama 1 gereja yaitu International Fellowship beserta alamat dan nama pendetanya. Senang sekali karena ada nomer telephonenya lengkap. Saya langsung menelphonenya, berkali-kali tetapi tidak ada jawabannya…. Saya coba cari lagi dengan cara lain di google untuk nama gereja tersebut. Saya akhirnya dapat afiliasi gereja tersebut di Singapore. Saya coba contact no telephone yang ada, dan … senang sekali ada yang seorang wanita menerima telephone. Saya akhirnya mendapat info kalau gereja tersebut sudah menjadi ‘gereja bawah tanah’ (dikejar-kejar oleh polisi pemerintah, jadi berpindah-pindah tempat), dan saat itu, pendetanya masih di penjara, karena sangat bersemangat memberitakan injil.
Wah… miris hati saya mendengar berita itu.

Saya kemudian diberikan alamat dan nomer telephone gereja protestan lainnya yang oleh pemerintah Vietnam ‘dibiarkan’ berjalan karena telah ada sejak Perancis menjajah Vietnam, dan menurut sejarahnya gereja ini tetap dipertahankan karena pemerintah Vietnam ingin memperlihatkan ke dunia kalau mereka tetap mengijinkan ada orang Kristen di Vietnam (80% orang Vietnam itu atheis). Gereja local tersebut bernama Evangelical Church, gereja Protestan yang liturginya mirip dengan GPIB/GKI. Seperti juga gereja katolik Notre Dame, yang dipertahankan pemerintah karena mempunyai nilai sejarah dan menjadi tempat kunjungan wisatawan karena arsitekturnya, mengikuti gereja Notre Dame di Paris… (Vietnam sangat berkiblat ke Perancis, dan nama-nama jalan, gedung di HCMC juga Hanoi masih banyak yang memakai nama-nama berbahasa Perancis),

Hari Minggu pun tiba, dan dengan penuh sukacita dan semangat, saya  berangkat dari Hotel dengan taksi ke gereja, saya ingin mendapatkan pengalaman beribadah di negara komunis. Ternyata, gereja tersebut tidak jauh dari hotel saya dan letaknya di jalan raya dekat lokasi turisme yang lain, juga dekat pasar souvenir, Ben Thanh.

Saya disambut depan pintu gereja oleh beberapa pasang majelis atau anggota jemaat, dengan sambutan hangat. Mengetahui saya orang asing, saya langsung dituntun ke bangku-bangku yang dikhususkan untuk WNA. Di bagian WNA kita dapat memakai head set yang darinya kita mendengarkan terjemahan dari awal sampai selesai kebaktian, supaya kita dapat mengikuti ibadah dengan tenang karena mengerti semuanya termasuk khotbahnya. Saat menyanyi, kami yang tidak berbahasa Vietnam bernyanyi dalam bahasa Inggris.  Pada hari Minggu tersebut orang asing yang mengikuti ibadah ada sekitar 30 orang terdiri dari orang Asia (hanya saya yang dari Indonesia), Amerika, Eropa dan Afrika. Sedangkan Jemaat Vietnam sekitar 300 orang (tidak termasuk anak-anak dan remaja/pemuda).

Minggu saat saya beribadah, adalah seminggu setelah tahun baru Cina, Mung Nam Moi (di Indonesia dikenal dengan Imlek) dan bagi masyarakat Vietnam, adalah hari pengucapan syukur karena musim semi telah tiba, ditandai dengan pohon jeruk yang berbuah dan bunga sakura yang bermekaran. Jemaat Evangelical Church juga merayakan hari pengucapan syukur tersebut dengan cara kristiani yaitu setiap kategori usia dalam jemaat memberikan puji-pujian dalam bentuk VG dan PS. Dari anak kecil, remaja/pemuda, orang dewasa dan lanjut usia. Minggu itu juga diadakan Perjamuan Kudus sebagai tanda ucapan syukur. Terasa sekali suasana ibadah saat itu adalah ibadah pengucapan syukur.

Banyak hal yang membuat saya terharu dalam mengikuti ibadah ini, pertama pada saat warta jemaat dibacakan (awal ibadah), diumumkan kalau ada 14 orang yang ‘convert’ menjadi Kristen (sudah jarang terdengar di gereja di Jakarta)…, kemudian saat berturut-turut PS menyanyi, saat kelompok anak-anak kecil dan kelompok teruna/pemuda berturut-turut maju kedepan, anggota PS kelompok ini begitu banyak sekitar 30 anak setiap kategori….. ini menandakan di masa depan gereja ini tetap akan eksis (jika tetap diijinkan oleh pemerintah). Apalagi setelah saya baca bulletin mereka yang dicetak sangat sederhana, adanya pembinaan terhadap anak dan remaja/pemuda (ada PA, belajar bahasa Inggris/Perancis, dan kebaktian minggu), dan semua dilaksanakan hanya pada hari Minggu. Tidak ada kegiatan dari gereja pada hari kerja.   Pendeta yang berkhotbah saat itu, Rev. Nguyen Quoc Dung, sangat bersemangat seperti kebangunan rohani, dan sepertinya khotbahnya berseri, karena pada pada akhirnya beliau mengucapkan ‘ kita sambung minggu depan’.


Pada saat saya keluar dari gereja, saya baru menyadari kalau diatap luar gereja ada beberapa loudspeaker (TOA) yang mengarah ke beberapa arah, dan keseluruhan ibadah didengar oleh orang sekitar gereja tersebut (seperti mesjid-mesjid di Indonesia) dan dengan cara demikian mereka memberitakan Injil. Hanya demikian yang diperbolehkan pemerintah, karena menginjili secara terbuka atau ‘one on one’ juga kebaktian dirumah-rumah, tidak diijinkan dan hukumannya adalah penjara. Saya yakin setiap ibadah minggu, khotbah pendeta selalu bersifat kebangunan rohani karena salah satu tujuannya adalah ‘menginjili’ orang Vietnam disekitar atau melewati gereja, yang hanya dapat dilakukan pada hari Minggu.

Sungguh suatu pengalaman yang sangat berarti buat saya yang belum pernah bergereja di Negara yang menganut paham komunis. Tetapi sungguh bersyukur dan memacu saya untuk lebih sungguh-sungguh mengikuti Tuhan Yesus, karena membandingkan kebebasan yang masih kita punyai di Negara tercinta ini dibandingkan orang Kristen Vietnam yang sangat terbatas dalam beribadah dan selalu merasa was-was jika akhirnya gerejanya harus ditutup. Hal itu juga yang mungkin dirasakan oleh sebagian saudara-saudara kita di Negara tercinta ini yang walaupun dikatakan ‘bebas beribadah’ tetapi tetap saja tidak dapat beribadah karena diteror dan dilarang menggunakan gerejanya.

Dukungan doa kita sangat dibutuhkan oleh mereka-mereka yang sampai saat ini tidak mempunyai kebebasan dalam beribadah dan menunjukkan iman kristiani mereka.

Adee