A+ A A-

  • Dilihat: 2668

Menjadi Segala-galanya Bagi Semua Orang.

Bacaan Alkitab I Korintus 9: 19-23
Ada teman saya seorang Pendeta. Ia sering pergi ke karaoke. Kebetulan pemilik karaoke itu anggota jemaatnya. Ia bergaul dengan bar tendernya, bergaul dengan penyanyinya. Ia juga suka bernyanyi di situ, baik lagu barat kadang-kadang ia minta diputarkan lagu rohani. Ia tidak merasa risih atau canggung. Resikonya memang, karena sering ke karaoke, mulut anggota jemaat yang lain mulai mencibirnya. Namun, ada tiga orang yang telah dijalanya, sehingga mereka dibaptis dan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.

Seperti misi Paulus, yang diungkapkan di ayat 19b: supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang, dan ayat 22b: Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenang-kan beberapa orang dari mereka.

Menjadi segala-galanya bagi semua orang, tidak mungkin dapat dilakukan, kalau tidak memiliki sikap : Kerendahan hati dan iman yang kuat. Kuncinya adalah iman yang kuat dan kerendahan hati. Siap untuk dikritik bahkan dicibir, tetapi harus siap juga mempertanggung jawabkan tindakannya.

Paulus pun mendapatkan kritikan pedas dari jemaat Korintus. Itulah sebabnya ia menulis surat I Korintus ini. di ayat 3, Pasal 9 ini ia tuliskan: Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengritik aku. Ia bertanggung jawab terhadap setiap tindakannya.

Di dalam hidupnya Paulus berusaha bergaul dengan setiap orang. Ia tidak memilih orang-orang tertentu untuk bergaul.

  • Ia bergaul dengan sesama bangsanya, orang Yahudi (ayat 20a).
  • Ia bergaul dengan orang-orang fanatik (20b).
  • Ia bergaul dengan orang-orang yang dipandang bangsa-nya sebagai orang kafir, karena tidak hidup di bawah Hukum Taurat, yaitu bangsa-bangsa yang bukan Yahudi (21).
  • Ia bergaul dengan orang-orang yang lemah (22).

Apa tujuannya Paulus bergaul dengan setiap orang? ia katakan: Supaya aku dapat memenangkan mereka, supaya aku dapat menyelamatkan mereka. Semua itu ia lakukan karena Injil. Injil harus diberitakan kepada mereka. Jalan masuknya adalah melalui pergaulan.

Bagi calon Penatua dan Diaken, setelah saudara diteguhkan menjadi Penatua dan Diaken, setiap tindakan yang saudara lakukan akan mendapat perhatian dari warga jemaat. Karena itu harus selalu siap untuk memberi jawaban atas tindakan saudara.

Namun bukan berarti, lalu kita bersikap munafik, membatasi pergaulan kita hanya kepada orang-orang tertentu. Jalani saja tugas sebagai Penatua maupun Diaken secara wajar dan bertanggung jawab. Secara wajar, berarti sikap kita tidak dibuat-buat, supaya orang melihat kita seperti malaikat, orang saleh, orang yang sungguh-sungguh baik. Tidak ada manusia yang baik. Hanya Tuhan yang baik. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelemahan.

Ambillah contoh dari para Dokter. Ia bergaul dengan semua orang yang penyakitan atau berpenyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat. Dari penyakit biasa sampai penyakit menular. Tetapi toh ia tidak terkena penyakit pasiennya. Kalaupun terkena, ia tahu apa obatnya. Kecuali penyakit yang belum ditemukan obatnya, seperti Aids. Kalau ini memang sudah resiko pekerjaannya. Karena itu dokter harus ekstra hati-hati jika menangani pasien Aids.

Penatua dan Diaken, juga Pendeta, pun sama. Karena tugasnya untuk menggembalakan domba-domba, maka ia akan bergaul, melayani semua domba. Dari domba yang biasa-biasa, sampai domba yang nakal, binal, jahat, tukang kritik, tukang fitnah, tukang gosip, dst. Ia harus bergaul dan melayani mereka, dengan tujuan : untuk memenang-kan mereka.

Para Gembala (Penatua, Diaken dan Pendeta) sudah dibekali didalam pembinaan bagaimana cara bersikap atau melayani jemaat. Begitu juga terhadap mereka yang bukan warga jemaat. Injil juga harus disampaikan kepada mereka. Jalan masuknya adalah melalui pergaulan. Namun tugas ini bukan hanya tugas gembala, tetapi tugas setiap orang percaya, tugas setiap orang beriman.

Beritakanlah Injil, seperti pikiran Paulus, supaya sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Dan jalan masuk untuk itu adalah melalui pergaulan. Bagi orang yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, dst.

Sekali lagi kunci dalam pergaulan untuk memenangkan  orang lain adalah:

Pertama: merendahkan diri. Paulus merendahkan dirinya seperti seorang hamba. Yesus merendahkan dirinya menjadi manusia. Mereka melayani setiap orang tanpa pamrih, dan pilih kasih.

Kedua: Kekuatan Iman. Kalau iman masih lemah, harus belajar dulu, dilatih dulu. Karena yang terjadi bisa sebaliknya, kita yang dapat terpengaruh oleh mereka. Maksud hati memenangkan gadis di karaoke, eh malah jatuh hati padanya, sampai rumah tangga berantakan.

Semua ini kita lakukan demi Injil, supaya kita mendapat bagian didalamnya. Amin.