A+ A A-

  • Dilihat: 1261

Belajar Melihat Kesempatan

Akhir tahun adalah waktu yang ditunggu oleh banyak orang, selain mungkin karena bonus perusahaan yang ditunggu, liburan dengan keluarga, dan bagi sebagian orang akhir tahun adalah waktu untuk berkontemplasi, mengevaluasi yang sudah dikerjakan dan dialami dan juga merencanakan hal-hal yang lebih baik untuk tahun berikutnya.

Pada saat itulah muncul kejernihan-kejernihan dalam melihat sesuatu, bebas dari perasaan negatif, tertinggal atau terancam, bebas dari perasaan kompetisi..

Cobalah kita masuk dalam kerumunan di mall ataupun di acara yang penuh dengan manusia, dan pada saat itu kita tidak lagi ikut berebut sepotong kesempatan didalamnya misalnya membeli tiket, mendapatkan barang dengan discount murah, membeli gadget yang gres.…. Kita mencoba ‘melihat’ atau ‘membaca’ manusia dalam segala keunikannya, pada saat itu kita bisa mendapat refleksi mengenai kita sendiri dan perilaku manusia. Kita dapat mengetahui dengan jelas mana ketulusan, kepalsuan, rayuan, kegetiran atau amarah.

Kita pasti tahu cerita ‘Orang Samaria yang baik hati’, dimana ada seorang yang dirampok penyamun, dipukul sampai tidak berdaya dan dibiarkan tergeletak di jalan. Beberapa orang melewati orang tersebut bahkan ada orang yang saat itu disebut ‘hamba Tuhan’, namun mereka hanya melewatinya dan tidak menolongnya. Kemudian ada seorang dari Samaria yang melewati orang tersebut dan mengangkatnya, membalut luka-lukanya, membawa kekota, mencarikan tempat penginapan untuk dirawat dan disembuhkan luka-lukanya dan semua dibiayai oleh orang Samaria tersebut.

Anda mungkin pernah membaca atau melihat video yang beredar beberapa tahun lalu tentang seorang balita yang sedang berjalan dan terlindas minivan. Dalam keadaan berdarah darah tidak seorangpun menolongnya. Bahkan sebuah pickup berikutnya ikut menggilasnya. Jika kita menghitung semua ada 14 orang yang melintas termasuk ibu beserta anak perempuannya, beberapa pejalan kaki, pengemudi sepeda motor yang melewati bayi tersebut. Video dari CCTV tersebut  beredar luas dan membuat banyak orang sedih dan merasa bersalah, karena balita YuaYue beberapa hari kemudian tewas. Polisipun terkejut dan mengganggap kejadian ini sangat serius untuk masa depan Tiongkok. Semua orang yang melewati balita malang tersebut diinterogasi dan jawabannya adalah “ Kami (saya) tidak melihat”..

Berbeda dengan kisah orang Samaria yang baik hati, orang Samaria tersebut ‘melihat’ kesempatan untuk berbuat baik, menolong sesama, walaupun dia tahu kalau yang ditolongnya adalah ‘musuh’ bangsanya.

Dalam kisah YuaYue, kesempatan itu dihindari oleh ke 14 orang yang lewat, dengan berbagai alasan.

Bukankah kita juga dikelilingi oleh puluhan, ratusan bahkan mungkin jutaan kesempatan untuk berbuat baik. Namun sering kita tidak ‘melihat’nya dengan berbagai alasan…  Ternyata benar apa yang dikatakan di Alkitab ‘ lebih berbahagia mereka yang memberi atau berbagi daripada mereka yang menerima’.. Karena berbagi atau memberi itu selalu diawali dengan melihat atau membaca kesempatan untuk melakukan sesuatu baik bagi orang lain  maupun kepada alam semesta ini.

Kita pernah tahu cerita Kaleb dan Joshua yang ‘melihat’ kesempatan mendapatkan tanah yang subur, sementara yang lain melihat bahwa di tanah yang subur tersebut hidup orang orang yang seperti raksasa dan tidak mungkin dapat dikalahkan.. Akhir dari kisah ini kita tahu.., bahkan saat ini kalau kita ke Israel, kita dapat membuktikan perkataan Kaleb dan Joshua beribu tahun lalu bahwa tanah ini tanah yang sangat subur..

Belajar dan peka ‘melihat’ kesempatan bukan saja kesempatan untuk hal-hal surgawi tapi juga kesempatan untuk ekonomi.

Mungkin pernah kita mendengar kisah pembuat sepatu Dr Martin. Saat beliau ke Afrika dan ‘melihat’ kesempatan bahwa disana orang membutuhkan sepatu karena mereka tidak pernah memakai sandal atau sepatu.. Sementara orang lain kesana pesimis untuk menjual sepatu disana karena orang Afrika tidak suka memakai sandal apalagi sepatu.. Anda mungkin tahu cerita akhirnya, sepatu yang dijual Dr Martin laku dan dipakai oleh sebagian besar orang Afrika pada saat itu. Saat ini sebagian besar orang Afrika memakai sandal atau sepatu.

Produk-produk yang kita jumpai di Mall ataupun di pasar pasar itu ada karena ada orang yang ‘melihat’ kesempatan untuk membuatnya.. Bibir kering memberikan kesempatan orang untuk membuat lipbalm, lipgloss. Trend saat ini untuk mendapat informasi dan pekerjaan kantor dalam genggaman tangan membuat Steve Jobs menciptakan Ipad.. Kita dapat menyebut berjuta produk yang lahir dari ‘melihat’ kesempatan yang ada…

Lantas, mengapa banyak orang tidak mampu ‘melihat’ sebuah musibah atau masalah itu sebagai suatu ‘kesempatan’? Tidak mampu ‘melihat’ kesempatan kesempatan untuk berbuat baik bagi orang orang disekitarnya?  Banyak orang yang jika ke gereja ataupun kebaktian/persekutuan doa berdoa sangat kusyuk, tetapi tidak mampu mengulurkan tangan saat tangannya dibutuhkan?

Mungkin jawabannya beragam dengan beragam pula alasan.. Namun diantara ribuan alasan tersebut, ada beberapa hal antara lain yang membuat mereka gagal melihat kesempatan tersebut: kurang melatih kepekaan, arogansi/ kesombongan yang berlebihan, terlalu fokus pada tujuan, miskin kasih, atau tidak menyadari bahwa itu adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk tujuan tertentu..

Kiranya di tahun 2014, kita masih diberikan banyak kesempatan dan kita diberi kepekaan untuk ‘melihat’ kesempatan tersebut untuk hal yang baik, termasuk kesempatan untuk berbagi dengan sesama kita dan melakukan yang terbaik dalam semua aspek kehidupan kita…

Selamat Tahun Baru 2014. Tuhan memberkati!