A+ A A-

  • Dilihat: 2250

Ecclesia Domestica

Keluarga sebagai Gereja Mini (I Timotius 3:15)

Jika kita diajukan sebuah pertanyaan  “Bagaimana caranya kita bisa mengkampanyekan sebuah perdamaian dunia?” Mungkin ada yang menjawab dengan optimis bahwa kita harus ikut serta secara aktif dalam organisasi perdamaian dunia

seperti PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), ada pula yang menjawab secara pesimis dengan mengatakan bahwa dunia memang sudah kacau, susah untuk mewujudkan perdamaian itu, itu hanya impian sebagian orang. Terlepas dari pandangan sebagian orang yang optimis maupun pesimis untuk mewujudkan perdamaian  itu. Bunda Theresa punya cara sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jawabannya adalah “MUDAH!  Mulailah di rumahmu sendiri. Cintai keluargamu dengan sepenuh hati. Ajarkan mereka tentang cinta dan mencintai orang lain. Dari cinta terhadap sesama inilah tumbuh perdamaian.”

Bunda Theresa mengatakan bahwa perdamaian bukanlah suatu hal yang sulit untuk diwujudkan jika setiap keluarga di dunia ini dapat mewujudnyatakan cinta kasih itu dalam keluarga mereka. Akan tetapi, dalam kehidupan keluarga dewasa ini, cinta kasih itu seakan-akan menjadi barang langka dan bernilai mahal. Banyak anggota keluarga, baik ayah, ibu dan anak-anak  tidak mendapatkan cinta, kasih sayang dan perhatian di rumah sehingga harus mencarinya di tempat lain baik di kantor, mall, diskotik, pusat perbelanjaan, game centre dan sebagainya. Bagi seorang Ayah, keluarganya bukan lagi isteri atau anak-anaknya tetapi kantor, pekerjaan dan bisnisnya. Bagi seorang Ibu, keluarganya telah berganti menjadi mall dan pusat perbelanjaan. Dan bagi seorang anak, arti dan peran keluarga didapatkannya bukan dari Ayah atau Ibunya tetapi dalam pergaulannya dengan teman-teman dan permainannya baik geng motor maupun permainan internet.

Keluarga Kristen memainkan peranan yang sangat penting dan mendasar untuk mengajarkan tentang Cinta Kasih. Seringkali kita meremehkan cinta kasih itu walau hanya dalam kekuatan sebuah sentuhan, seulas senyuman, seuntai kata yang baik, kesediaan mendengarkan, pujian yang tulus, atau tindakan-tindakan kecil lainnya yang menunjukkan kepedulian dalam sebuah keluarga. Padahal, semua itu sebenarnya mempunyai potensi untuk mengubah hidup seseorang.

Jika kita melihat I Timotius 3:15 maka “keluarga Allah” adalah jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Sebagai jemaat Allah yang hidup maka keluarga kristen harus mendasari seluruh kehidupannya dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan Yesus dan selalu senantiasa mengabarkan Injil itu berawal dari keluarganya. Injil yang dinyatakan bukan hanya melalui perkataan akan tetapi perbuatan yang nyata diawali dan didasari dalam keluarga. Tuhan Yesus adalah satu-satunya tiang penopang  dan dasar kebenaran dalam keluarga itu.

Rumah sebuah keluarga kristen tidak hanya berarti sebagai sebuah “bangunan kosong” tanpa kehidupan di dalamnya, tanpa canda tawa, tanpa pujian, tanpa sentuhan cinta seakan-akan tidak ada kehidupan di dalamnya. Setiap anggota hanya bertemu 5 menit setiap harinya. Rumah sebuah keluarga kristen bukan juga “rumah angker” ketika setiap keluarga hidup dalam ketakutan, kesedihan dan penderitaan seakan-akan setiap anggota keluarga takut pulang rumah. Rumah keluarga kristen bukan pula “rumah jagal” ketika kekerasan dan pukulan adalah cara berkomunikasinya.  Rumah kristen bukan pula sebuah “shopping mall” ketika uang dan materi menjadi satu-satunya nilai prestisius dan berharga untuk pemenuhan kebutuhan.

Keluarga Kristen adalah Ecclesia Domestica (meminjam istilah dan pengetian St. Yohanes Chritotomus) atau dengan kata lain gereja mini atau gereja kecil. Gereja mini/ gereja rumah tangga itu adalah tempat Yesus Kristus hidup dan berkarya untuk keselamatan manusia dan berkembangnya kerajaan Allah. Setiap keluarga Kristiani hendaknya terdapat bermacam-macam segi dari seluruh Gereja baik persekutuan, pelayanan maupun kesaksian. Sebagai Gereja, keluarga itu merupakan tubuh Yesus Kristus.  Sebagai Gereja juga, setiap keluarga dipanggil untuk menyatakan kasih Allah yang begitu luar biasa baik di dalam maupun di luar keluarga. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga harus selalu mengalami pengalaman nyata dan terus menerus dengan Yesus Kristus dalam Ibadah/persekutuan, puji-pujian dan doa. Keluarga sebagai gereja mini seharusnya bisa mengungkapkan diri dalam cara pikir dan memiliki tingkah laku yang sesuai dengan semangat injil yaitu berita sukacita dalam kasih dan damai sejahtera yang nyata terhadap sesama.

Keluarga sebagai gereja mini diharapkan menjadi tempat yang baik bagi setiap orang untuk mengalami kehangatan cinta yang tak  mementingkan diri sendiri, kesetiaan, sikap saling menghormati dan mempertahankan kehidupan.  Inilah panggilan khas keluarga Kristen dan apabila mereka menyadari panggilannya ini, maka keluarga menjadi persekutuan yang menguduskan, di mana orang belajar menghayati kelemahlembutan, keadilan, belaskasihan, kasih sayang, kemurnian, kedamaian, dan ketulusan hati.